Angora, Mujaer, dan Ayah yang Makan Ceker, Catatan Kecil tentang Dua Generasi, Dua Spesies, dan Satu Meja Makan
Di rumah kami, perbedaan kelas sosial tidak ditentukan oleh rekening, pendidikan, atau gelar. Ia ditentukan oleh apa yang berani dimakan.
Anak saya hidup di dunia yang relatif steril. Bekalnya rapi, kotak makannya lucu, makanannya dipastikan tidak berbau menyengat, tidak berduri, dan—kalau bisa—tidak mengingatkan bahwa makhluk hidup pernah mati demi ia kenyang. Dunia Royal Canin versi manusia: nutrisi seimbang, estetika penting, dan rasa aman adalah segalanya.
Lalu ada saya.
Ayahnya.
Yang dengan santai duduk mengunyah ceker, kepala ayam, usus, dan sesekali kepala lele.
Anak saya menatap saya seperti antropolog muda yang menemukan spesies purba masih hidup di ruang tamu.
Saya bisa membaca pikirannya:
“Ini ayah… atau sisa evolusi yang belum sempat update?”
Di titik inilah saya sadar: kami sedang berdiri di dua dunia yang berbeda, tapi masih satu rumah.
Kebetulan, di luar rumah, semesta memberi metafora yang lebih jujur.
Tetangga memelihara dua kucing.
Satu angora: putih, anggun, rontok, sering ke dokter hewan.
Satu kucing domestik kampung: abu-abu kehitaman, saya juluki Mujaer.
Angora hidup seperti anak saya.
Makan premium, tidur banyak, sensitif, takut ketinggian, buang air di pasir wangi.
Segalanya teratur, bersih, dan… rapuh.
Mujaer hidup seperti saya.
Makan apa saja, termasuk kepala lele dari piring manusia.
Main sama bocil.
Mengejar ular sampai masuk rumah orang.
Kadang berak di tempat yang tidak disepakati bersama—misalnya jok motor tetangga.
Mujaer tidak pernah ke dokter.
Angora langganan.
Di kepala saya, lahirlah dialog imajiner yang terlalu masuk akal untuk diabaikan.
Angora:
“Enak nggak itu?”
Mujaer:
“Enak banget. Ada tekstur. Ada tantangan.”
Angora:
“Apakah… aman?”
Mujaer:
“Lu aman rontok tiap bulan. Gue aman ngejar ular. Pilih sendiri.”
Di meja makan, dialog serupa terjadi—tanpa kata.
Anak saya memegang sendoknya ragu.
Saya memegang ceker dengan penuh keyakinan.
Ia hidup di dunia yang mengajarkan: yang mahal itu aman.
Saya datang dari dunia yang mengajarkan: yang dimakan habis itu berkah.
Dan lucunya, saya tidak merasa perlu “mendidik” anak saya untuk menjadi Mujaer.
Saya juga tidak merasa perlu membela diri agar terlihat seperti Angora.
Saya berdiri di tengah, sambil mencubit diri sendiri:
ternyata jejak desa itu tidak pernah hilang—hanya naik kelas sosial tanpa ganti watak.
Antropolog menyebut ini habitus—Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa selera, pilihan, bahkan cara makan adalah jejak kelas dan pengalaman hidup yang tertanam dalam tubuh (Bourdieu, Distinction, 1979).
Dalam bahasa lebih sederhana: kamu bisa ganti piring, tapi lidahmu tahu dari mana ia berasal.
Dalam psikologi perkembangan, anak memang cenderung menghindari makanan “berisiko” dan meniru standar aman yang dibangun lingkungan (Birch, 1999).
Sementara orang dewasa—terutama yang hidupnya pernah keras—lebih toleran pada ketidakpastian rasa dan bentuk.
Dalam Islam sendiri, tidak ada konsep kesucian yang lahir dari gengsi. Nabi tidak memilih makanan karena citra, tapi karena ketersediaan dan kebermanfaatan. Yang ditegaskan adalah halal, thayyib, dan tidak berlebihan—bukan kemasan dan merek.
Maka ketika anak saya memandang saya seperti makhluk aneh, saya tidak tersinggung.
Itu fase.
Suatu hari nanti, ketika dunia terlalu rapi dan terlalu mahal untuk sekadar hidup, ia mungkin akan melirik piring saya dan bertanya pelan:
“Enak nggak, Yah?”
Dan saya akan menjawab seperti Mujaer senior yang sudah berdamai dengan Angora:
“Enak. Tapi jangan kebanyakan mikir. Duri bikin rahang kuat.”
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang memilih jadi angora atau mujaer.
Tapi tentang tahu kapan harus anggun, dan kapan harus tahan banting.
Dan di rumah kami, dua-duanya sah hidup berdampingan—
selama tidak rebutan kepala lele. 😅
0 komentar