Peradaban Teralis: Dari One Gate sampai Toren Berkandang
Saya tinggal di cluster yang kalau maling lewat, mungkin malah bingung sendiri. Bukan karena kami sakti, tapi karena hampir tidak ada teralis tambahan. Jendela ya jendela. Pintu ya pintu. Toren air berdiri telanjang, tanpa jeruji, tanpa rasa bersalah.
Alasannya sederhana dan sangat membosankan: one gate system, CCTV di mana-mana, satpam masih menyapa pakai nama, dan warga kelas menengah yang kalau stres, pelariannya bukan nyolong jemuran, tapi beli kopi mahal.
Lalu suatu hari saya main ke sebuah komplek lain. Begitu masuk, saya merasa sedang mengunjungi Lapas Versi Arsitektural.
Rumah-rumahnya… wow.
Teras full besi.
Jendela berlapis teralis.
Pintu dobel.
Dan yang paling menyentuh: toren air ikut dikurung.
Saya berdiri lama, menatap toren itu.
Di kepala saya muncul dialog imajiner:
“Tenang ya Ren, ini demi keamanan.”
Sedikit ngobrol, ketahuan sebabnya.
“Di sini sering kemalingan, Pak.”
Oh.
Bukan warganya paranoid. Lingkungannya yang memaksa waras jadi opsional.
Di situ saya sadar: teralis bukan sekadar benda besi. Ia adalah arsip kolektif trauma.
Setiap jeruji adalah memo batin: pernah kejadian.
Setiap lasan adalah doa pendek: jangan terulang.
Di cluster saya, rasa aman datang dari sistem.
Di komplek itu, rasa aman datang dari overcompensating baja.
Saya membandingkan dua dunia ini sambil mencubit diri sendiri.
Jangan-jangan saya yang terlalu santai.
Atau mereka yang terlalu siap perang.
Lucunya, dua-duanya rasional.
Yang satu hidup di ekosistem dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Yang satu hidup di habitat survival, di mana maling bukan teori sosial, tapi tetangga RT sebelah.
Maka jangan heran kalau rumah bisa berubah jadi kandang.
Bukan karena penghuninya liar,
tapi karena lingkungannya tidak memberi pilihan selain bertahan.
Dan saya pulang ke cluster sendiri sambil menatap toren saya yang bebas, berdiri anggun tanpa jeruji.
Bukan merasa lebih unggul.
Cuma mikir pelan:
“Ah… ternyata rasa aman itu mahal.
Kadang dibayar pakai iuran,
kadang dibayar pakai besi.” 😅
0 komentar