Ketika Halu Naik Mimbar dan Jamaah Mengaminkan
Da’i viral itu, mau bagaimana pun, tetap manusia. Ia capek. Ia bosan mengulang kajian yang sama. Ia juga hidup di dunia yang menuntut konten baru tiap pekan. Maka pelan-pelan, ceramahnya bergeser. Tidak lagi murni tafsir, tidak sepenuhnya kajian. Mulai disisipi cerita. Awalnya ilustrasi. Lalu metafora. Lalu… halu tipis-tipis.
Anehnya, halu ini tidak jatuh. Ia justru dipercaya.
Di titik ini, akademisi di luar pagar mulai batuk kecil.
“Ini dalilnya apa?”
“Konteksnya kurang tepat.”
“Atau ini pengalaman personal, bukan metodologi tafsir.”
Dan seperti adegan sinetron yang sudah kita hafal, yang terjadi bukan dialog, tapi refleks kawanan: jamaah marah. Bukan karena argumennya salah, tapi karena otoritasnya diganggu. Dalam psikologi sosial, ini disebut identity-protective cognition (Kahan, 2017): ketika sebuah keyakinan sudah menjadi identitas, kritik terasa seperti serangan pribadi.
Da’i lalu berdiri lebih tegak. Bukan karena dalilnya makin kuat, tapi karena panggungnya membesar. Jamaah menepuk dada: “Inilah ulama pewaris nabi!”
Bukan karena kedalaman ilmunya diverifikasi, tapi karena ia berhasil membuat mereka merasa dipilih.
Max Weber (1922) lagi-lagi nyengir dari alam kubur. Ini otoritas karismatik dalam bentuk paling telanjang: kebenaran tidak diuji lewat argumen, tapi lewat loyalitas. Siapa yang mengkritik dianggap bukan sekadar salah, tapi kurang iman. Siapa yang bertanya dicurigai. Siapa yang ragu dilabeli sekular.
Dan da’i—yang awalnya mungkin hanya ingin berbagi pengalaman batin—pelan-pelan tergelincir ke posisi simbolik: bukan lagi penyampai, tapi representasi. Bukan lagi pengingat, tapi perpanjangan tangan langit. Di sini, batas antara dakwah dan personality cult mulai kabur.
Tradisi Islam klasik sebenarnya alergi pada ini. Imam Ahmad bin Hanbal (w. 855 M) menolak diposisikan sebagai figur tak terbantah. Al-Syafi’i (w. 820 M) bahkan berkata, “Jika pendapatku benar, ia masih mungkin salah. Jika pendapat orang lain salah, ia masih mungkin benar.” Kalimat ini bukan kerendahan hati kosmetik, tapi sistem pengaman epistemik.
Sayangnya, sistem pengaman itu sering dilepas demi trafik.
Yang lebih ironis: jamaah merasa sedang membela agama, padahal sering kali mereka hanya membela figur. Psikologi massa Gustave Le Bon (1895) sudah lama mengingatkan bahwa dalam kerumunan, nalar individu melemah dan emosi kolektif mengambil alih. Kebenaran menjadi soal siapa yang bicara, bukan apa yang dibicarakan.
Dan saya? Saya tidak suci dari ini. Saya juga pernah lebih percaya suara yang hangat daripada argumen yang rapi. Pernah lebih nyaman pada da’i yang “ngena” daripada yang “ribet”. Bedanya, mungkin hanya satu: saya berhenti ketika sadar halu sudah dijual sebagai wahyu.
Di titik ini, saya tidak ingin menertawakan da’i viral sendirian. Karena tanpa jamaah yang lapar afirmasi, halu tidak akan laku. Dan tanpa kami—yang merasa waras tapi memilih diam—panggung itu tidak akan sepenuhnya kosong dari koreksi.
Mungkin problemnya bukan pada manusia yang berbicara, tapi pada budaya yang memuja suara lantang.
Mungkin bukan da’inya yang merasa hebat, tapi jamaah yang butuh figur untuk dititipi iman.
Dan mungkin—ini yang paling pahit—agama sedang diperlakukan seperti influencer marketing: siapa yang paling dipercaya, dialah yang dianggap paling dekat dengan Tuhan.
Padahal, kedekatan dengan Tuhan sering kali justru membuat seseorang tak nyaman dipuja. Sunyi. Ragu. Banyak bertanya. Sedikit klaim.
Sisanya?
Halu naik mimbar.
Jamaah mengaminkan.
Akademisi disuruh diam.
Dan kita semua berpura-pura ini disebut “pewarisan nabi”.
0 komentar