Keberkahan di Suapan Terakhir, Catatan Ayah Desa Menghadapi Anak Picky Eater yang Terlalu Cepat Modern

by - 6:00 PM

Ada satu fase parenting yang membuat saya merasa seluruh filsafat hidup saya runtuh oleh satu kalimat pendek:

“Aku nggak suka.”

Bukan karena rasanya.
Bukan karena alergi.
Tapi karena… teksturnya menyeramkan.

Buncis.
Pare.
Jantung pisang.
Rebung.

Belum dicoba, tapi sudah ditolak.
Belum disentuh, tapi sudah divonis.

Saya menatap anak saya dengan ekspresi ayah yang separuh antropolog, separuh dukun gagal.

“Nak,” kata saya pelan, setengah Arab setengah putus asa,
“jarrib walāḥidh takun ‘ārifa.”
Coba dulu, perhatikan, baru jadi tahu.

Jawabannya konsisten:
“Ngga mau.”

Di titik ini saya sadar:
anak saya bukan tidak lapar,
ia hanya lahir di zaman yang terlalu cepat memberi pilihan.

Pizza? Aman.
Spaghetti? Familiar.
Mi instan? Ahli waris takhta.

Tapi pete cina?
Jantung pisang?
Kepayang?
Gaplek?
Gatot?
Tiwul?
Tutut?

Itu bukan makanan di kepala mereka.
Itu artefak museum.

Padahal bagi saya, itu semua adalah jejak hidup.
Makanan yang lahir dari adaptasi, keterbatasan, dan kecerdikan orang desa yang tidak punya privilege untuk “ngga suka”.

Saya tumbuh dengan prinsip sederhana dan brutal:

Semua makanan itu enak,
asal saya berani memakannya
dan tidak haram.

Titik.

Tidak ada konsep “trauma tekstur”.
Yang ada hanya: lapar atau kenyang.

Antropologi pangan mencatat, picky eater bukan sekadar soal lidah, tapi soal lingkungan aman (Rozin, 1990). Anak yang hidup dalam dunia minim risiko akan mengembangkan food neophobia—takut pada makanan baru. Bukan karena buruk, tapi karena tidak perlu berani.

Dan saya sadar, anak saya memang tidak perlu sekeras saya.
Itu kabar baik.
Tapi di sisi lain, kalau semuanya terlalu disterilkan, lidah bisa kehilangan daya jelajah.

Maka, ketika semua pendekatan rasional gagal—
nutrisi, serat, vitamin, “ini sehat”—
saya mengeluarkan jurus pamungkas.

Jurus metafisik.

Dengan suara ayah yang pura-pura bijak dan sedikit mengancam alam semesta, saya bilang:

“Habiskan.
Kamu tidak pernah tahu di bagian mana keberkahan makanan berada.”

Sambil…
menumpahkan tumis buncis ke piringnya.

Ini bukan ancaman.
Ini teologi darurat.

Dalam Islam sendiri, konsep keberkahan memang tidak selalu rasional dan tidak selalu kasat mata. Makanan dianjurkan dihabiskan, bukan karena kita tahu hitungannya, tapi karena kita tidak tahu letaknya. Barangkali di suapan terakhir. Barangkali di remah yang dianggap sepele.

Dan jujur saja—
ini juga katarsis saya.

Karena saya tahu, satu hari nanti, anak saya akan hidup di dunia yang terlalu rapi, terlalu selektif, dan terlalu cepat menolak hal-hal yang belum ia pahami.

Maka tugas saya bukan memaksa ia jadi mujaer.
Cukup mengenalkan bahwa dunia tidak sesempit menu restoran mall.

Kalau ia tetap tidak suka?
Tidak apa-apa.

Tapi ia harus pernah mencoba.

Karena keberanian pertama manusia bukan soal ide besar,
tapi soal menyuap sesuatu yang bentuknya aneh
dan berkata dalam hati:

“Oh… ternyata nggak semenakutkan itu.”

Dan kalau pun ia tetap menolak, saya akan mundur sambil mengunyah bagian saya sendiri, dengan tenang, sambil bergumam:

“Lemah memang generasi ini…
tapi masih bisa diselamatkan.” 😅

Karena pada akhirnya, parenting bukan soal menang.
Tapi soal meninggalkan jejak rasa.

Siapa tahu, dua puluh tahun lagi,
di suatu dapur kecil,
anak saya akan berkata ke anaknya:

“Ini jantung pisang.
Coba dulu.
Keberkahannya suka ngumpet di suapan terakhir.”

You May Also Like

0 komentar