Mak Lampir Kalah oleh Susu Formula: Sebuah Otobiografi Jahiliyah Parenting
Anak pertama itu fase jahiliyah premium.
Semua suara adalah tanda.
Semua gerak adalah isyarat gaib.
Dan semua tangisan bayi… jelas bukan hal sederhana.
Anak nangis?
Kami panik. “Ini ditemani jurig nggak sih?”
Anak senyum sendiri?
Kami saling pandang dengan mata berkaca-kaca: “Oh… jurignya baik.”
Anak tiba-tiba kaget, tangan kebuka, muka ketakutan?
Diagnosa cepat keluar: “Ini shift… jurig baiknya diganti Mak Lampir.”
Mak Lampir pula.
Selalu Mak Lampir.
Kenapa bukan tuyul magang atau pocong junior? Entah.
Protokol Spiritual Level Orang Panik
Langsung aktif SOP: Gosok bangle, Baca Ayat Kursi, Tatapan tajam ke sudut ruangan (siapa tau ada entitas cabang), Nada suara mulai bergetar
Hasilnya?
Bayi tetap nangis.
Kami mulai mikir: “Waduh… Mak Lampir mode berserk ini.”
Padahal bayi cuma: lapar, perut kosong, jam biologisnya bilang “tolong, isi bensin”
Plot Twist: Suatu yang Haram Menjadi Penyelamat
Lalu, dengan rasa bersalah bercampur pasrah…
kami kasih susu formula.
Dan…
DIAM.
Anteng.
Tenang.
Muka puas.
Tidak ada jeritan.
Tidak ada jurig.
Tidak ada Mak Lampir.
Yang ada cuma satu kesimpulan pahit: “Oh… kamu laper.”
🤣🤣🤣
Dari Dunia Gaib ke Dunia Gastroenterologi
Di titik itu, kosmologi runtuh.
Ternyata: bayi menangis bukan karena makhluk halus, bayi senyum bukan karena malaikat shift pagi, bayi kaget bukan karena perang dimensi
Tapi karena:refleks Moro, lapar, sistem saraf yang belum matang
Ilmu kedokteran menyebutnya neonatal adjustment.
Psikologi perkembangan menyebutnya sensory overload.
Orang tua jahiliyah menyebutnya:
“Kenapa sih hidup ini ribet amat.”
Ayat, ASI, dan Efek Plasebo yang Saling Damai
Menariknya, ayat tetap punya efek.
Bukan karena mengusir Mak Lampir,
tapi karena: suara orang tua jadi tenang, intonasi melambat, bayi merasa ada yang menemani
Ilmu saraf menyebut ini co-regulation.
Islam menyebutnya sakinah.
Bukan sihir.
Bukan tahayul.
Tapi tubuh dan jiwa bekerja barengan.
Yang salah bukan ayatnya.
Yang salah: over-interpretasi horor.
Jahiliyah Itu Bukan Bodoh, Tapi Kurang Ilmu
Fase jahiliyah parenting bukan aib.
Itu fase belajar sambil ketakutan.
Sama seperti dulu: luka dikasih jahe, cabe merah, getah pisang, jigong emak
Sembuh sih.
Tapi sambil menderita.
Ilmu datang bukan buat menertawakan masa lalu,
tapi buat bilang: “Tenang, dulu kamu cuma belum tahu.”
Epilog: Mak Lampir Pensiun, Ilmu Masuk Shift
Sekarang, kalau bayi nangis: cek popok, cek perut, cek jam tidur
Bukan cek dimensi astral.
Mak Lampir pensiun.
Jurig alih profesi.
Dan orang tua akhirnya waras pelan-pelan.
Dan kita bisa tertawa, sambil mengaku: “Dulu mah… lebay. Tapi ya, semua orang tua pernah di situ.”
😅
0 komentar