Anak Desa Sok Waras di Kota: Tafsir Fungsional atas Kotak Bekal Seharga Motor

by - 12:00 PM

Saya ini anak desa yang kebetulan hidup di kota. Itu saja. Bukan identitas heroik. Lebih tepatnya: residu cara hidup yang belum sepenuhnya luruh. Salah satunya muncul di meja makan—atau lebih tepatnya, alas makan.

Bagi saya, alas makan itu soal fungsi. Piring? Oke. Mangkok? Silakan. Kertas nasi? Sah. Daun pisang? Nikmat plus aroma. Plastik? Selama bersih dan tidak berubah jadi eksperimen kimia, lanjut. Yang penting sederhana: makanan masuk, perut kenyang, badan tidak protes. Saya bahkan sempat menyebut—dengan gaya sok akademik—bahwa saya menghindari stainless 200 series karena kandungan nikelnya bisa migrasi ke makanan. Padahal, jujur saja, itu cara saya membenarkan kebiasaan lama: nggak ribet.

Epifani receh itu saya tularkan ke anak. Tanpa ceramah. Tanpa manifesto. Hanya lewat praktik harian. Makan itu ya makan. Bukan ritual status.

Masalahnya, anak saya tidak makan sendirian. Ia makan di sekolah. Di situlah antropologi dadakan dimulai.

Kotak bekal.

Saya kira semua kotak bekal itu ya kotak bekal. Ternyata tidak. Ada kasta. Ada silsilah. Ada harga yang jika dikonversi ke realitas kampung saya dulu, setara satu kali cicilan motor. Saya tidak iri—ini penting saya garis bawahi, supaya batin saya sendiri tidak berisik. Saya lebih ke… bengong. Seperti antropolog amatir yang salah kostum masuk gala dinner.

Anak saya? Lebih bengong lagi. Ia tidak paham merek. Tidak paham prestige. Ia hanya paham satu hal: “Hari ini ayah bawain apa?” dan “Ini enak nggak?” Itu saja. Pierre Bourdieu (1979) menyebut ini habitus: selera yang dibentuk bukan oleh kesadaran kelas, tapi oleh praktik hidup sehari-hari. Anak saya belum punya bahasa untuk menyebut “kelas”. Ia hanya punya perut.

Kotak bekal mahal ternyata tidak berdiri sendiri. Ia punya ekosistem. Tumbler premium. Tas sekolah bermerek. Sepatu dengan logo yang bahkan orang tuanya kadang tidak bisa mengeja dengan benar tapi tahu harganya. Sekolah dasar berubah jadi etalase kecil kapitalisme halus—bukan karena niat jahat, tapi karena kebiasaan yang dinormalisasi.

Saya di sisi lain, masih setia pada tas fungsional. Kadang tas hadiah beli laptop. Kadang tas dari lembaga amal. Kadang tas yang kalau ditanya mereknya, saya jawab: “Ini tas masih kuat.” Anak saya pun saya belikan tas yang—lagi-lagi—fungsional. Nyaman, awet, pantas. Bisa diganti tiap naik kelas tanpa drama batin.

Alasan rasionalnya saya bungkus rapi: anak cepat bosan, durabilitas terbatas, siklus tumbuh cepat. Alasan jujurnya lebih telanjang: saya tidak siap secara emosional melihat tas anak seharga tiga juta dipakai setahun, lalu menganggur di lemari. Mau diwariskan? Sayang. Mau dijual preloved? Siapa yang mau beli tas anak bekas setengah harga sambil membayangkan ingus dan remah biskuit yang pernah hidup di situ?

Dalam Islam, kesederhanaan bukan anti-keindahan. Nabi Muhammad hidup fungsional bukan karena miskin estetika, tapi karena sadar batas. Al-Ghazali (w. 1111 M) sudah lama mengingatkan bahwa kelekatan berlebih pada benda bukan soal bendanya, tapi soal apa yang benda itu lakukan pada jiwa. Sementara Ibn Khaldun (1377) mencatat bahwa ketika kemewahan masuk ke generasi awal, ia sering dianggap nikmat; ketika menetap, ia berubah jadi kebutuhan palsu.

Psikologi modern menyebut fenomena ini conspicuous consumption (Veblen, 1899): konsumsi bukan untuk fungsi, tapi untuk sinyal. Masalahnya, sinyal ini sering tidak ditujukan ke anak, tapi ke sesama orang tua. Anak hanya jadi pembawa spanduk yang tidak ia pahami.

Dan di sinilah saya harus jujur: bias saya juga bekerja. Saya merasa lebih “waras” hanya karena hidup fungsional. Padahal bisa jadi ini cuma bentuk lain dari identitas: anti-ribet sebagai moral superiority. Saya menertawakan kotak bekal mahal, tapi jangan-jangan saya juga sedang memoles ego dengan narasi “anak desa yang selamat dari kota”.

Saya tidak sedang menolak barang bagus. Saya menolak ilusi bahwa barang mahal otomatis mendidik. Anak belajar nilai bukan dari harga kotak bekal, tapi dari cara orang dewasa memperlakukannya—dan memperlakukan orang lain yang kotak bekalnya berbeda.

Kalau suatu hari anak saya minta tas mahal karena ia suka, bukan karena kasta, mungkin saya akan duduk dan bicara. Bukan langsung mengharamkan. Karena yang saya rawat sebenarnya bukan selera murah, tapi kesadaran.

Dan sejauh ini, kesadaran anak saya masih sederhana: makan enak, perut aman, pulang sekolah tidak sakit. Sisanya? Urusan orang tua yang terlalu banyak mikir—termasuk saya.

Anak desa sok waras di kota.
Masih belajar.
Masih bias.
Masih menertawakan diri sendiri sambil berharap tidak menjadikan fungsi sebagai berhala baru.


You May Also Like

0 komentar