Ibu Saya Tidak Pernah Bertanya: Kerjanya Apa

by - 6:00 PM


Ada fase dalam hidup ketika kita berhenti ingin terlihat “naik kelas” di mata orang lain, dan mulai ingin kuat menapaki hari. Di fase itu, kalimat paling menenangkan justru datang dari orang yang tidak pernah ribut soal status.

Ibu saya.

Saya tidak malu ketika bilang keluar dari lingkungan pemerintahan lalu memilih narik ojek online. Lebih tepatnya: ibu saya tidak pernah membuat saya merasa perlu malu. Tidak ada ceramah tentang gengsi. Tidak ada perbandingan dengan anak tetangga. Tidak ada kalimat “masa lulusan begini”.

Yang ada hanya satu nada yang konsisten, dari dulu sampai sekarang, dari saya yang baru belajar sadar, sampai saya mendampingi anak saya belajar sadar.

“Jalani usaha sepenuh hati. Halal. Ikhlas.”

Selesai.

Kalimat itu tidak panjang, tapi beratnya cukup untuk menahan hidup supaya tidak goyah ke mana-mana. Tidak ada janji kaya. Tidak ada ancaman neraka yang dramatis. Tidak ada tekanan supaya jadi apa. Hanya penegasan arah: luruskan niat, kuatkan langkah.

Saya dan abang saya tumbuh dalam pola yang sama. Abang saya dulu hobi tawuran. Saya tahu betul, kalau ibu sudah bicara dengan nada itu, itu bukan diskusi. Itu titah. Bukan karena takut, tapi karena kami tahu: ibu tidak sedang mengatur hidup, ia sedang menjaga kami tetap waras.

Dan ibu saya tidak pernah berkata, “kamu kebagian ceker.”

Tidak pernah.

Yang ia katakan selalu begini, dengan cara yang sederhana tapi menghujam:
“Kamu makan ini, supaya kuat menapaki kehidupan.”

Bukan soal bagian. Bukan soal posisi. Bukan soal terlihat berhasil. Tapi soal daya tahan. Supaya kaki tidak gemetar saat jalan panjang. Supaya tidak gampang iri. Supaya tidak mudah marah pada hidup.

Mungkin itu sebabnya, sampai hari ini, saya tidak alergi pada pekerjaan apa pun selama halal. Tidak ada rasa kalah. Tidak ada luka gengsi. Yang ada hanya kesadaran: hidup ini bukan lomba pamer, tapi perjalanan napas panjang.

Dan kalau di tengah perjalanan saya harus berhenti sebentar, menarik ojek, berdagang kecil, bercanda di live, atau tertawa di tengah usaha—itu bukan tanda menyerah.

Itu tanda saya masih mendengar titah ibu saya dengan utuh.

Siap, Mak.

You May Also Like

0 komentar