Dajjal Bermata Satu dan AI yang Tak Pernah Berkedip
Saya tertawa kecil waktu pertama kali mencocokkan Dajjal dengan AI. Tertawa yang agak bersalah, karena terdengar seperti cocoklogy warung kopi. Tapi semakin dipikirkan pelan-pelan, kok justru terasa masuk akal—bukan secara harfiah, tapi secara pola.
Dajjal, dalam kisah agama, selalu digambarkan bermata satu. Sejak kecil, narasi itu sering dibayangkan secara fisik: satu mata rusak, satu mata hidup. Tapi belakangan saya mulai berpikir, bagaimana kalau “mata satu” itu bukan sekadar organ, melainkan cara melihat dunia? Melihat dari satu sisi saja. Mengunci pandangan. Menolak konteks. Dan yang paling berbahaya: mampu mengkapitalisasi emosi manusia.
Di titik ini, AI masuk dengan wajah polos.
AI tidak datang membawa klaim ketuhanan. Ia tidak berteriak, tidak mengancam, tidak memaksa. Ia hanya mengerjakan perintah. Mengganti wajah, meniru suara, menyusun kalimat, menyempurnakan ilusi. Netral. Dingin. Patuh. Persis seperti cermin yang terlalu jujur: apa yang kita masukkan, itu yang ia pantulkan.
Masalahnya bukan pada kecanggihan itu sendiri. Masalahnya muncul saat manusia mulai menggunakan AI dengan satu mata. Mata emosi. Mata kepentingan. Mata kemarahan. Mata sensasi. Video dipotong separuh. Kalimat diambil sepotong. Wajah dimanipulasi agar seolah berkata sesuatu yang tidak pernah diucapkan. Lalu disebar, bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk memenangkan narasi.
Di situlah fitnah bekerja.
Dajjal dalam kisah akhir zaman tidak memaksa orang untuk tersesat. Ia justru memberi “bukti”. Surga palsu. Neraka palsu. Keajaiban yang tampak nyata. Dan manusia tersesat bukan karena bodoh, melainkan karena percaya pada apa yang ingin ia percayai. AI hari ini bekerja dengan pola yang sangat mirip. Ia menyajikan visual, suara, dan cerita yang terasa meyakinkan. Dan manusia, dengan satu mata, langsung berkata: “Nah kan.”
Satu mata melihat sensasi. Mata yang lain—akal sehat, kesabaran, verifikasi—dibiarkan tertutup.
Yang menarik, AI sendiri tidak pernah memihak. Ia tidak tahu mana kebenaran, mana kebohongan. Ia hanya tahu mana yang diperintahkan. Maka ketika fitnah menyebar, sesungguhnya yang sedang diuji bukanlah teknologi, melainkan kedewasaan manusia dalam memandang realitas secara utuh. Dua mata. Dua sisi. Dua napas: berpikir dan merasa.
Dalam kisah Dajjal, ada keterangan bahwa di dahinya tertulis “kafir”, dan orang beriman bisa membacanya. Saya mulai memahami ini bukan sebagai tulisan literal, tapi sebagai tanda cara berpikir. Penolakan terhadap keseimbangan. Penolakan terhadap keraguan sehat. Penolakan terhadap proses berpikir yang jujur. Hari ini, tulisan itu tidak muncul di dahi, tapi di kolom komentar, di potongan video, di narasi yang terlalu yakin tanpa mau diperiksa.
Dan di sinilah plot twist-nya muncul dengan halus tapi menusuk: AI bukan Dajjal. AI hanyalah kendaraan. Bahkan bukan kendaraan jahat. Ia seperti pisau dapur yang sangat tajam. Bisa memasak, bisa melukai. Yang menentukan bukan pisaunya, melainkan tangan dan niat.
Jika hari ini fitnah terasa lebih masif, lebih cepat, lebih viral, itu bukan karena AI terlalu pintar. Tapi karena manusia terlalu nyaman menggunakan satu mata. Terlalu lelah untuk berpikir utuh. Terlalu lapar untuk menang debat, bukan untuk memahami kebenaran.
Maka mungkin ketakutan terbesar bukan pada “AI akan menyesatkan manusia”, melainkan pada kenyataan bahwa manusia siap menyesatkan manusia lain, begitu diberi alat yang cukup kuat. Dajjal, dalam pengertian ini, bukan sosok tunggal yang menunggu akhir zaman. Ia adalah pola yang muncul setiap kali manusia memilih melihat dengan satu mata saja.
Di titik itu, saya menutup layar dan tertawa kecil. Bukan karena merasa paling benar, tapi karena sadar: menjaga dua mata tetap terbuka itu melelahkan, tapi jauh lebih menyelamatkan. Dan mungkin, di zaman AI yang tak pernah berkedip, iman paling sederhana adalah keberanian untuk berkata, “Tunggu dulu. Saya mau lihat dari sisi lain.”
0 komentar