Ibadah Ada Jokinya, Tuhan Tetap Mahatahu

by - 12:00 AM


Saya mantan anak kampung.
Dan ini titik culture shock paling bikin bulu kuduk refleksi diri.

Di kampung, ibadah itu… ya ibadah.
Sederhana.
Kadang belepotan.
Kadang lupa niat.
Tapi milik sendiri.

Doa ya doa.
Puasa ya puasa.
Niat ya niat.

Kalau malas, ya jujur malas.
Kalau bolong, ya bolong.
Tuhan tahu, orang sekampung juga kadang tahu.

Lalu saya masuk kota.
Dan menemukan fitur baru dalam hidup modern:

Ibadah versi delegasi.

Ada joki umrah.
Ada joki doa.
Ada joki amal.
Ada paket lengkap:
Sedekah otomatis, pahala estimasi, laporan berkala.

Tinggal transfer.
Tidak perlu capek.
Tidak perlu menahan ego.
Tidak perlu berdamai dengan diri sendiri.

Anak kampung bengong sambil ngelus dada:
“Lah… ini ibadah atau logistik?”

Di kampung, orang sedekah datang sendiri.
Ketemu orangnya.
Lihat matanya.
Kadang ikut menangis.

Di kota, sedekah cukup klik.
Air mata? Optional.
Yang penting bukti transfer.

Bukan berarti sedekahnya salah.
Bukan berarti niatnya palsu.
Tapi saya kaget pada satu hal:

Rasa bersih batin bisa dibeli tanpa berhadapan dengan diri sendiri.

Ada yang berkata:
“Yang penting niatnya.”

Saya setuju.
Tapi niat itu kan…
bukan file PDF yang bisa dikirim ke orang lain.

Anak kampung mulai bertanya, setengah bercanda setengah takut:
“Kalau ibadah bisa diwakilkan…
dosanya ikut kewakilkan juga nggak?”

Kota diam.
Server timeout.
Tidak ada FAQ.

Tuhan tidak.

Di kampung, ibadah itu proses.
Kadang lambat.
Kadang memalukan.
Kadang bikin malu sama diri sendiri.

Di kota, ibadah itu bisa dipercepat.
Dioptimalkan.
Dioutsourcing.

Bukan berarti kota sesat.
Bukan berarti kampung suci.

Ini cuma pengingat kecil dari mantan anak kampung:

Tuhan itu Mahatahu.
Lebih tahu dari dashboard donasi.
Lebih paham dari laporan mingguan.

Kalau kita kirim wakil ke Tuhan,
jangan kaget kalau Tuhan tetap menunggu
kita datang sendiri.



You May Also Like

0 komentar