Golongan Darah AB+, Empati Positif, dan Ayam yang Tidak Jadi Disalahkan

by - 6:00 AM

Saya baru sadar, hidup saya ini sering dikira kontradiktif.

Golongan darah AB+, katanya langka, katanya unik, katanya kepribadian abu-abu—padahal saya cuma sering mikir sebelum bereaksi. Itu saja.

Waktu pertama donor darah, petugas PMI langsung berubah sigap. Nada bicaranya naik satu tingkat, kompensasinya beda, saya diperlakukan seperti stok langka. Saya sempat mikir: oh, mungkin ini rasanya ganteng. Ternyata bukan. Darah saya yang dianggap eksklusif. Saya pulang dengan perasaan ambigu: bangga, tapi juga takut kalau darah saya disedot kebanyakan. Orang AB+ itu katanya langka, jangan sampai habis diambil, pikir saya dengan logika ngawur tapi tulus.

Masalahnya, saya ini penakut soal darah.
Bukan karena jijik.
Lebih ke… lemas.

Trauma ini bukan datang tiba-tiba. Waktu remaja, pernah ada kelompok dakwah ekstrem masuk ke sekolah. Katanya mau membangkitkan semangat bela agama. Yang diputar? Video pembantaian. Darah. Penyembelihan. Jeritan. Saya pucat, izin keluar, lutut seperti lupa fungsinya. Sampai hari ini saya masih bertanya-tanya: sejak kapan ideologi perlu dibela dengan memaksa anak remaja menonton kematian manusia?

Untungnya sekolah waras. Narasi itu dilarang. Saya selamat dari kemungkinan menjadi dewasa yang mengira kekejaman adalah bukti iman.

Lucunya, empati berlebih ini ikut ke hal-hal receh.
Potong ayam misalnya.

Waktu mertua minta bantuan, saya bilang:
“Biar saya saja yang pegang. Urusan sampai potong biar saya.”

Mereka tertawa. Mungkin mengira saya tidak mampu. Padahal saya tahu persis titik mana yang harus dipotong agar cepat. Saya bisa. Saya hanya tidak tega melihat penderitaan yang dipanjang-panjangkan. Bagi saya, kalau memang harus mati, jangan disiksa. Itu saja. Prinsip sederhana yang entah kenapa sering dianggap aneh.

Saya sering dibilang terlalu lembut.
Padahal saya cuma tidak kebal.

Dan ternyata, dunia memang lebih nyaman dengan orang-orang yang kebal. Yang bisa menonton darah sambil makan. Yang bisa berteriak soal perjuangan tanpa pernah membersihkan luka. Yang bisa bicara besar tentang ideologi, tapi menutup mata saat empati mulai merepotkan.

Saya?
Golongan darah AB+.
Katanya abu-abu.
Nyatanya cuma berusaha tetap manusia.

Kalau ada yang butuh darah saya, saya ingin membantu. Dengan sadar diri. Dengan batas. Dengan empati yang mungkin bikin saya lemas, tapi setidaknya tidak membuat saya lupa rasanya jadi hidup.

Dan soal ayam—
percayalah, saya tidak anti potong.
Saya hanya ingin ia cepat, selesai, dan tidak dijadikan tontonan.

Mungkin itu sebabnya saya cocok donor darah, tapi tidak cocok propaganda.
Cocok empati, tapi tidak cocok kekejaman.
Dan tetap AB+, meski dunia maunya hitam-putih.

Kalau itu disebut lemah, ya sudah.
Saya pilih lemah yang sadar, daripada kuat tapi mati rasa.

You May Also Like

0 komentar