Kami Pernah Menangis dan Takut, Sekarang Hanya Ingin Nabi Tidak Lagi Dijual

by - 6:00 AM


Ada satu fase ketika saya bersyukur: kebaikan, entah bagaimana caranya, akhirnya menemukan titik terangnya sendiri. Bukan lewat debat panjang, bukan lewat ceramah tandingan, tapi lewat kelelahan kolektif. Masyarakat capek. Nurani bangun perlahan. Dan yang paling penting, ada tesis yang mulai beredar, pelan tapi konsisten: ini bukan tentang membela nabi, ini tentang memanfaatkan nabi.

Awalnya tegang. Hampir seperti perang kecil. Jamaah saling tatap dengan wajah bingung, seperti ingin bertanya satu sama lain: please, ini bohong kan? Saya sendiri defensif, bukan karena merasa paling benar, tapi karena tidak ingin merasa terlalu malu—pernah marah ke tetangga, pernah terpancing emosi oleh keributan yang dibungkus nasab.

Lama-lama polanya kelihatan.
Bukan satu dua orang yang diuntungkan.
Bukan satu dua harta yang berpindah tangan.
Ini sistem kecil, rapi, dan rakus.

Nama rasul dipakai seperti merek dagang.
Kesalehan dijadikan etalase.
Dan penderitaan jamaah dianggap biaya operasional.

Warga mulai sadar bukan karena ceramah, tapi karena lelah. Lelah melihat orang yang paling lantang bicara cinta nabi justru paling nyaman hidupnya. Lelah melihat amarah dipelihara, konflik dirawat, dan ketakutan dijadikan bahan bakar. Bahkan ada yang sampai mati karena melawan aparat—dan saat itu, banyak dari kami hanya bisa terdiam, bertanya: ini membela siapa sebenarnya?

Ada satu hal yang paling membekas di tubuh saya: suara takbir di jalanan.
Saya muslim. Saya tumbuh dengan takbir sebagai suara kemenangan batin.
Tapi pada fase itu, takbir terdengar mencekam.
Bukan karena lafaznya, tapi karena niat yang menungganginya.

Takbir yang seharusnya menguatkan, berubah menjadi teriakan manipulasi.
Dan jujur saja, saya takut.
Takut bukan pada agama, tapi pada manusia yang memegangnya tanpa rem.

Waktu berjalan. Suasana mereda. Orang-orang mulai menjauh, bukan karena benci, tapi karena sadar. Tidak ada heroisme. Tidak ada klimaks dramatis. Hanya satu kesimpulan pahit yang pelan-pelan diterima bersama: ini bukan dakwah, ini bisnis identitas.

Dan di titik itu, saya tertawa lagi.
Bukan tawa bahagia, tapi tawa pahit yang sudah lama disimpan.

Saya baru sadar betapa absurdnya semuanya:

Untuk memperbaiki nasib, seseorang memilih menjual nasab.

Bukan menjual gagasan.
Bukan menjual kerja keras.
Tapi menjual silsilah—dan berharap dunia tunduk.

Syukurlah, ini berhenti.
Bukan karena kami hebat, tapi karena kebohongan selalu lelah lebih dulu.

Sekarang saya bisa bernapas lebih lega.
Bukan karena menang, tapi karena nabi tidak lagi ditelanjangi di depan umum.
Namanya tak lagi dipakai untuk memeras.
Dan cinta tak lagi diukur dari apa yang sanggup kita serahkan, melainkan dari akal yang tetap hidup.

Ini bukan cerita tentang kebencian.
Ini cerita tentang kewarasan yang akhirnya pulang.

Dan mungkin, itu bentuk penghormatan paling jujur:
membiarkan nabi tetap luhur, tanpa perlu dijual siapa pun.

You May Also Like

0 komentar