Saya Belajar Waras dari Dunia yang Tidak Masuk Akal
Saya senang bacaan yang surealis.
Bukan karena hidup saya sudah terlalu rapi, justru karena hidup ini sering tidak logis tapi dipaksa terlihat masuk akal.
Surealisme itu semacam izin resmi untuk berkata,
“tidak apa-apa kalau dunia hari ini terasa mimpi buruk, besok bisa jadi mimpi basah, lusa jadi mimpi yang lupa alarm.”
Di dunia surealis, logika tidak dipecat—hanya disuruh duduk di pojok, minum teh, dan jangan sok mengatur segalanya.
Saya tumbuh dengan cerita-cerita yang aneh:
orang mati bangkit, perempuan cantik justru celaka, cinta datang bukan membawa bunga tapi parang.
Dan entah kenapa, itu terasa lebih jujur daripada cerita motivasi yang bilang, asal niat baik, semesta mendukung.
Novel seperti Cantik Itu Luka tidak mengajarkan saya cara hidup bahagia.
Ia mengajarkan sesuatu yang lebih penting:
jangan gampang kagum.
Dewi Ayu cantik, tapi kecantikannya seperti kutukan keluarga.
Anak-anaknya cantik, tapi hidup mereka berantakan.
Yang paling “selamat” justru anak yang dinamai Cantik, tapi tidak cantik.
Di situ saya tertawa pahit.
Oh, ternyata hidup juga sering begitu:
yang terlihat unggul justru lebih sering ditarik ke lumpur.
Sejak itu, saya jadi curiga pada segala yang terlalu indah.
Pada orang yang terlalu rapi bicara, terlalu yakin pada dirinya sendiri, terlalu suci di etalase publik.
Bukan karena saya sinis—tapi karena saya sudah membaca cukup banyak cerita di mana kecantikan, kuasa, dan kepintaran sering membawa biaya tersembunyi.
Surealisme mengajari saya satu hal penting:
kenyataan tidak selalu lurus, dan orang yang tampak utuh sering sedang retak diam-diam.
Mungkin itu sebabnya saya tidak lekas silau.
Bukan karena saya kebal, tapi karena saya sudah melihat terlalu banyak karakter yang tampak hebat di halaman awal, lalu hancur pelan-pelan di bab berikutnya.
Di dunia surealis, orang bisa tertawa sambil berdarah.
Di dunia nyata, orang bisa berdarah sambil tersenyum.
Dan saya, berdiri di tengah-tengahnya,
lebih memilih jadi pembaca yang waspada
daripada tokoh yang merasa paling benar.
Kalau hidup ini mimpi,
saya tidak ingin terbang terlalu tinggi.
Takut jatuhnya bangun—
dan ternyata yang menyambut saya bukan kasur,
tapi kenyataan yang tertawa pelan sambil berkata:
“Lihat kan?
Yang absurd itu bukan cerita.
Yang absurd itu manusia yang mengira hidup selalu masuk akal.”
0 komentar