Anak Tidak Drama, Ia Kekurangan Bahasa
Saya dulu mengira anak saya berbakat teater.
Ekspresinya penuh. Suaranya naik turun. Tangisnya dramatis.
Kadang jatuh ke lantai seperti tokoh utama sinetron episode terakhir.
Dalam hati saya bergumam:
“Ini anak kok drama banget sih?”
Ternyata yang drama itu bukan anak saya.
Yang drama itu ekspektasi saya.
Karena saya lupa satu hal mendasar:
anak kecil belum punya kosakata emosi yang cukup.
Orang dewasa kalau kesal bisa bilang:
“Aku capek.”
“Aku kecewa.”
“Aku butuh waktu.”
“Aku lagi nggak sanggup.”
Anak?
Dia cuma punya: “Nggak mauuu!” “AAAAAA!” tangis disertai guling-guling dan kadang bonus teriak yang bikin tetangga update status.
Bukan karena lebay.
Tapi karena itulah kamus yang tersedia.
Coba bayangkan kita dipaksa menyampaikan emosi kompleks
pakai pilihan kata yang terbatas.
Kayak disuruh presentasi tesis doktoral
pakai emoji doang.
🙂😡😭🔥
Ya jadinya kelihatan drama.
Anak tidak bilang: “Ayah, sistem sarafku kewalahan oleh transisi aktivitas mendadak.”
Dia bilang: “NGGAK MAU BERHENTI MAIN!!!”
Pesannya sama.
Bahasanya beda.
Lucunya, kita sering menuntut anak punya kendali emosi yang bahkan orang dewasa pun sering gagal.
Orang dewasa:
kena macet → marah-marah di mobil
kerjaan numpuk → nyolot ke rumah
internet lambat → mengumpat ke router
Tapi anak nangis karena mainannya diambil: “Drama! Cengeng! Lebay!”
Padahal anak itu sedang berusaha berkomunikasi dengan alat seadanya.
Tangisan itu bukan manipulasi. Itu subtitle emosi.
Teriakan itu bukan pembangkangan. Itu bahasa darurat.
Anak yang “drama” biasanya bukan kurang ajar, tapi kurang kata.
Ia belum bisa membedakan: kesal, kecewa, sedih, takut, lelah, cemas.
Semuanya masih satu folder: meledak.
Dan sering kali, alih-alih menambah kosakata, kita malah menekan volumenya.
“Udah! Jangan nangis!” “Berisik!” “Drama amat sih!”
Anak mungkin diam. Tapi bukan karena paham. Melainkan karena bingung: “Kalau begini salah, aku harus bagaimana?”
Padahal yang lebih membantu bukan mematikan emosi, tapi menerjemahkannya.
“Oh, kamu kesel ya karena mainannya diambil?” “Oh, kamu sedih karena harus berhenti?” “Oh, kamu capek makanya marah?”
Itu bukan memanjakan. Itu mengajari bahasa.
Bahasa perasaan.
Dan lucunya, anak yang merasa dipahami biasanya lebih cepat tenang dibanding anak yang dibentak.
Karena akhirnya ada yang berkata: “Aku ngerti kamu.”
Anak yang punya kata, tidak perlu drama.
Anak yang punya bahasa, tidak perlu berteriak.
Drama berkurang bukan karena anak ditekan, tapi karena ia naik level komunikasi.
Jadi lain kali kalau anak terlihat “drama”, mungkin bukan sedang akting, tapi sedang mengetik pesan penting dengan keyboard yang masih rusak setengah.
Dan kita? Kita ini Google Translate-nya.
Kalau kita salah terjemah, jangan salahkan pesannya.
0 komentar