Saya Punya Bahan Pemerasan Sejak Kecil, Tapi Lebih Tertarik Pelajaran IPA
Kalau dipikir-pikir sekarang, masa kecil saya itu cukup berbahaya.
Bukan karena tawuran, narkoba, atau geng sekolah.
Tapi karena saya pegang data.
Teman-teman sering titip surat izin tidak masuk sekolah.
Tulisan tangan mereka sendiri, rapi, lengkap dengan alasan sakit perut, demam, atau “menemani orang tua”.
Padahal kenyataannya?
Mereka nongkrong di warung, udud, nunggu jam pulang.
Dan surat itu… lewat tangan saya.
Saya tahu:
- siapa yang bohong ke orang tuanya
- siapa yang kabur
- di mana mereka nongkrong
- jam berapa mereka balik seolah-olah habis sekolah
Kalau mau jujur, itu bahan pemerasan level pemula.
Paket lengkap. Tinggal nambah satu kalimat:
“Eh, jangan macem-macem ya.”
Tapi anehnya, itu nggak pernah kepikiran.
Saya masuk kelas, duduk, buka buku.
Pelajaran IPA.
Fotosintesis.
Siklus air.
Hal-hal yang menurut anak seusia saya… entah kenapa menarik.
Teman-teman saya di luar kelas, menjalani hidup ala film indie:
rokok, warung, kebebasan sementara.
Saya di dalam kelas, menjalani hidup ala dokumenter:
belajar karena ingin pintar. Titik.
Belakangan, saat dewasa, saya baru sadar:
“Anjir… dulu gue bisa banget jadi berandalan.”
Tapi ternyata saya salah fokus.
Bukan karena saya anak baik.
Bukan juga karena saya suci.
Tapi karena imajinasi saya waktu itu tidak ke arah kuasa,
melainkan ke arah: “kalau gue ngerti ini, gue selangkah lebih aman.”
Saya tidak membocorkan mereka ke guru.
Bukan karena solidaritas heroik.
Saya juga tidak melapor ke orang tua mereka.
Bukan karena takut.
Saya hanya… tidak tertarik.
Tujuan saya cuma satu:
sekolah, belajar, pintar.
Yang lain itu noise.
Sekarang kalau diingat, lucu juga.
Teman-teman itu mempercayakan rahasia hidup kecil mereka ke satu anak
yang sebenarnya tidak punya niat apa-apa selain lulus pelajaran.
Dan bagian paling kocak dari semuanya:
saya baru kepikiran potensi pemerasannya puluhan tahun kemudian.
Terlambat.
Data kadaluarsa.
Warungnya mungkin sudah jadi minimarket.
Tapi setidaknya saya tahu satu hal tentang diri saya sendiri:
dari kecil, saya bukan tidak bisa jahat.
Saya hanya terlalu sibuk ingin mengerti dunia
sampai lupa memanfaatkannya.
Dan mungkin itu sebabnya,
sampai hari ini,
saya masih lebih tertarik membedah IPA kehidupan
daripada mengatur orang lain.
0 komentar