Satu Bara Neraka Katanya Bisa Menghancurkan Dunia, Tapi Kami Masih Bingung Nyari Korek
Kenakalan soal surga–neraka itu ternyata tidak berhenti di selokan.
Ada satu teman ngaji saya, sejak kecil perokok berat. Bukan tipe yang sembunyi-sembunyi lalu sok alim, tapi jujur brutal. Suatu hari, di tengah ceramah tentang kenikmatan surga, dia angkat tangan dan bilang dengan polos yang bikin ruangan beku:
“Ah, di surga kan nggak bisa ngerokok. Mending di neraka. Bara api di mana-mana, nggak usah rebutan korek.”
Kami saling pandang.
Lalu tertawa.
Bukan karena setuju, tapi karena logikanya… konsisten.
Guru kami panik. Wajahnya berubah antara ingin marah dan ingin menyelamatkan akidah satu generasi. Dengan nada serius beliau menjelaskan, bahwa satu bara api neraka saja kalau dibawa ke dunia, dunia akan hancur. Bukan main-main. Bukan api biasa. Api kosmik, api ilahi, api yang levelnya sudah di luar hukum fisika.
Saya dan teman saya saling menoleh lagi.
Otak kami langsung bekerja—ini penyakit lama.
Kami membayangkan satu bara kecil, ukurannya mungkin cuma segenggam tangan, jatuh ke bumi seperti meteor. Laut mendidih. Gunung meleleh. Manusia lenyap. Tamat. Kredit film naik.
Dan di tengah bayangan kiamat itu, kami tetap… tertawa.
Bukan menertawakan neraka. Tapi menertawakan cara manusia menjelaskannya. Terlalu jauh. Terlalu bombastis. Sampai rasanya tidak nyambung dengan keseharian kami yang masih ribut soal sandal hilang di mushola.
Tentu saja, kami berdua dihukum.
Diam di pojok.
Disuruh istigfar.
Dicap kebanyakan mikir.
Tapi justru dari situ saya sadar: sejak kecil, kami tidak benar-benar menolak konsep surga dan neraka. Kami hanya kesulitan menerimanya dalam bentuk yang terlalu kosmik, sementara realitas di depan mata masih berantakan.
Kalau satu bara neraka bisa menghancurkan dunia, kenapa satu selokan bau tidak dianggap cukup untuk memulai pembicaraan tentang neraka kecil?
Kalau surga digambarkan penuh kenikmatan, kenapa berbagi hasil kebun dianggap biasa, bukan latihan surgawi?
Kenakalan kami waktu itu memang kebangetan. Tapi mungkin itu satu-satunya cara anak kampung memahami konsep besar: dengan menariknya ke tanah, ke dapur, ke sungai, ke rokok, ke korek api.
Bukan untuk merendahkan iman.
Tapi untuk membuatnya relevan.
Dan sampai hari ini, setiap mendengar ceramah tentang surga yang terlalu jauh, saya masih ingat kalimat teman saya itu—tentang neraka, rokok, dan bara api.
Lalu saya senyum sendiri.
Karena mungkin, iman juga perlu sedikit kenakalan
supaya tidak berubah jadi cerita
yang terlalu tinggi
untuk disentuh kehidupan sehari-hari.
0 komentar