Dajjal Bermata Satu, AI Bermata Banyak, dan Manusia yang Rela Jadi Kucing
Saya pernah ketawa waktu mencocokkan Dajjal dengan AI. Ketawa yang agak jahat. Soalnya cocoklogy ini terasa terlalu pas, sampai bikin tidak nyaman. Biasanya kalau cocoklogy terasa tidak nyaman, justru itu tandanya kena.
Dajjal digambarkan bermata satu. Dari dulu orang ribut soal fisiknya, padahal yang lebih relevan itu cara pandangnya. Mata satu artinya apa? Melihat dunia tanpa mau repot berpikir. Satu sudut pandang, satu emosi, satu kesimpulan, lalu merasa paling tercerahkan. Sisanya? Salah. Bodoh. Kadrun. Cebong. Atau label murahan lain sesuai zaman.
Sekarang kita punya AI. Bukan makhluk gaib, bukan setan, bukan nabi. Cuma mesin. Tapi mesin ini rajin sekali. Disuruh apa pun dikerjakan. Disuruh bikin wajah pejabat ngomong ngawur, jadi. Disuruh potong video biar kelihatan jahat, jadi. Disuruh bikin narasi seolah-olah dunia mau kiamat minggu depan, juga jadi. AI itu bukan bermata satu—dia malah tidak punya mata sama sekali. Tapi lucunya, manusia justru meminjam AI untuk memperkuat mata satunya sendiri.
Fitnah zaman dulu butuh tenaga. Harus muter kampung, bisik-bisik, risiko digebukin warga. Sekarang? Tinggal ketik prompt sambil ngopi. Lima menit kemudian, satu bangsa ribut. Ini bukan kemajuan teknologi, ini kemalasan berpikir yang difasilitasi dengan kualitas HD.
Dajjal, kata kitab-kitab, membawa fitnah besar. Tapi fitnah itu tidak bekerja pada orang yang mau berpikir dua kali. Fitnah bekerja pada orang yang emosinya sudah mencret duluan sebelum otaknya sampai kamar mandi. Dan di sinilah AI jadi tongkat mainan. Bukan tongkat sihir. Tongkat kucing. Ujungnya digerak-gerakkan, kucing-kucing berlabel “warganet kritis” lompat-lompat, cakarnya keluar, bulunya berdiri, padahal yang megang stick cuma akun news abal-abal yang fotonya telur.
Saya dulu juga pernah pengin nampol online. Keyboard warrior phase. Merasa paling sadar, paling tercerahkan, paling paham konspirasi. Untung belum ada AI secanggih sekarang. Kalau ada, mungkin saya sudah bikin video tokoh nasional ngomong ngelantur, lalu bangga karena “membongkar kebenaran”. Sekarang saya sadar: itu bukan keberanian, itu ego yang dikasih mainan mahal.
Yang bikin ngeri bukan AI bisa bikin fitnah. Yang bikin ngeri itu manusia senang difitnahkan selama sesuai selera emosinya. Kalau sesuai keyakinan, langsung share. Kalau tidak sesuai, baru teriak hoaks. Logika dipakai bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk membela kemarahan.
Dajjal mengaku Tuhan. Manusia sekarang tidak perlu sejauh itu. Cukup mengaku: “saya paling waras di kolom komentar.” Padahal kalau dibaca ulang lima tahun kemudian, besar kemungkinan akun itu buru-buru dikunci, dihapus, atau diganti nama jadi “leletidur”.
Maka plot twist-nya sederhana tapi menyakitkan:
AI bukan Dajjal.
AI bukan iblis.
AI bukan dalang.
Manusia cuma menemukan cara baru untuk mempermalukan dirinya sendiri dengan resolusi tinggi.
Dajjal bermata satu itu metafora. Dan hari ini, mata itu hidup subur di manusia yang malas berpikir, tapi rajin berpendapat. Yang ingin merasa penting tanpa mau bertanggung jawab. Yang ingin menang debat tanpa mau paham konteks.
Kalau benar Dajjal adalah fitnah terbesar, mungkin ia tidak datang sebagai sosok. Ia datang sebagai fitur. Dan manusia, dengan senang hati, mencentang kotak “I Agree” tanpa membaca apa pun—lalu marah karena dunia kacau.
Saya menutup layar, tertawa, dan menarik napas. Bukan karena saya kebal, tapi karena akhirnya sadar:
melatih dua mata itu capek,
tapi jauh lebih bermartabat
daripada jadi kucing yang bangga sedang “berjuang”,
padahal cuma ngejar ujung stick.
0 komentar