Banyak Hal Bisa Dijual, Tapi Saya Malas Menjual Diri Sendiri

by - 12:00 AM


Sejak kecil, kepala saya dijejali satu kalimat yang ukurannya kecil tapi bobotnya absurd berat:
“Hal sebesar biji sawi pun akan ditanya sama Tuhan.”

Kalimat itu tidak datang sebagai nasihat lembut.
Ia datang seperti palu godam ke batin bocah.
Sekecil apa pun—niat, pikiran, tindakan—semuanya masuk timbangan.
Dan di ujung timbangan itu ada satu kata yang sangat efektif sebagai depresan instan: neraka.

Hasilnya sederhana tapi permanen.
Ada banyak hal yang secara teknis bisa dilakukan, bisa dikapitalisasi, bisa “ah cuma sedikit kok”—tapi saya tidak melakukannya.
Bukan karena saya suci.
Bukan juga karena saya tidak tahu caranya.
Saya tahu. Saya melihat. Saya paham celahnya.

Saya cuma… malas.

Malas menyimpan ingatan kebohongan kecil.
Malas menjelaskan asal-usul rezeki yang harus dipelintir.
Malas hidup dengan kalimat “sebenarnya sih…” di kepala sendiri.

Kalau mau jujur, dunia ini kreatif luar biasa.
Ada yang menjual jasa titip.
Ada yang menjual akun.
Ada yang menjual kelengahan sistem.
Ada yang menjual sesuatu yang bahkan tidak perlu disebut namanya.

Saya sering berhenti di satu titik yang sama:
“Kok kepikiran ya orang?”

Bukan karena saya lebih pintar.
Justru karena saya kebanyakan rem.

Rem itu namanya: takut ditanya.
Takut bukan pada manusia, tapi pada momen sunyi saat semua alasan tidak bisa dipakai.

Lucunya, depresan instan ini tidak sepenuhnya buruk.
Seperti yin dan yang versi kampung.
Ia membatasi, tapi juga merapikan.
Ia membuat langkah saya lambat, tapi jalurnya jelas.

Saya lihat teman-teman yang dapat sokongan modal besar.
Angka nol di rekening mereka lebih banyak.
Rumah lebih besar.
Pilihan hidup lebih luas.

Saya tidak iri.
Saya tidak membenci.

Saya cuma memperhatikan satu hal kecil:
pola tidurnya.

Timeline media sosial mereka ramai oleh teriakan.
Bukan teriakan ke luar, tapi bocoran ke dalam.
Kemarahan, pembelaan diri, pembuktian, dan kelelahan yang dibungkus motivasi.

Sementara saya?
Tidur saya sering terlalu nyenyak.
Sampai alarm HP harus bekerja keras membangunkan saya.

Mungkin ini harga yang saya bayar.
Hidup tidak terlalu spektakuler.
Tidak terlalu melonjak.
Tidak terlalu viral.

Tapi juga tidak perlu pura-pura kuat.
Tidak perlu menyusun narasi.
Tidak perlu menjual versi diri yang lain.

Banyak hal memang bisa dijual.
Ide, waktu, tenaga, bahkan kelicikan.

Tapi sejak kecil, saya sudah terlalu takut pada timbangan.
Dan jujur saja—
saya terlalu malas menjual diri sendiri.

You May Also Like

0 komentar