Dari Sahur ke Sorotan: Puasa yang Berakhir di Kamera

by - 12:00 PM

 


(Seri Kedelapan)

Puasa itu dimulai dalam gelap.
Jam tiga pagi.
Mata setengah terbuka, tangan meraba nasi, mulut masih setia dengan rasa ngantuk.

Sahur adalah fase paling jujur dari puasa.
Tidak ada estetika.
Tidak ada sudut kamera.
Rambut acak-acakan, muka kusut, niat kadang tertinggal di kasur.

Di situ, puasa benar-benar manusiawi.
Kita makan bukan untuk gaya hidup,
tapi agar tidak tumbang sebelum Zuhur.

Lalu hari berjalan.
Menahan lapar.
Menahan emosi.
Menahan komentar yang sebenarnya ingin dilepas di kolom chat.

Puasa bekerja diam-diam.
Tidak dramatis.
Tidak minta disorot.

Sampai hari-hari terakhir Ramadan datang.

Pelan-pelan, kamera menyala.

Bukan kamera malaikat—
kamera ponsel.

Sorotan bergeser.
Dari sajadah ke cermin.
Dari doa ke angle terbaik.

Caption pun berubah nada:
“Alhamdulillah selesai puasa”
lalu diikuti
“Outfit Lebaran tahun ini ✨”.

Puasa yang sebulan penuh
akhirnya punya panggung.

Dan panggung itu bernama: feed.

Tidak salah.
Saya ulangi pelan-pelan:
tidak salah.

Yang menarik adalah pergeseran maknanya.

Puasa mengajarkan kita menghilang—
tidak makan, tidak minum, tidak pamer.
Lebaran justru mengundang kita muncul—
hadir, terlihat, dinilai.

Kontras ini lucu sekaligus jujur.

Orang yang sebulan belajar mengurangi,
di hari kemenangan justru belajar menambah.

Tambah baju.
Tambah sepatu.
Tambah ekspresi.

Kadang juga tambah validasi.

Dan di situlah kamera menjadi penentu:
apakah puasa berakhir sebagai pengalaman batin,
atau sebagai konten tahunan.

Ada yang selesai puasa, lalu kembali sunyi.
Ada yang selesai puasa, lalu masuk sorotan.

Tidak ada yang lebih suci.
Tidak ada yang lebih hina.

Hanya satu pertanyaan kecil yang tersisa:

Apakah puasa kita selesai karena waktunya habis,
atau karena perhatian kita pindah?

Sahur mengajarkan kita rendah hati—
makan dalam gelap, tanpa saksi.

Sorotan menguji kita—
apakah setelah sebulan ditenangkan,
kita masih butuh dilihat untuk merasa ada.

Kalau iya, tidak apa-apa.
Manusia memang begitu.

Tapi kalau tidak,
dan kita bisa tersenyum tanpa kamera,
itu bonus yang jarang dibahas.

Puasa yang benar-benar mengendap
tidak takut kamera,
tapi juga tidak mencarinya.

Ia tahu:
yang paling jujur dari ibadah
selalu terjadi
saat tidak ada yang menonton.

You May Also Like

0 komentar