Anak Tidak Pelupa, Ia Kelebihan Beban Anak Tidak Cengeng, Ia Masih Jujur

by - 12:00 PM

Ada dua label favorit orang dewasa yang sering dilempar ke anak tanpa mikir panjang.

“Lupa lagi.” “Cengeng amat sih.”

Dua kata pendek. Dampaknya panjang.

Anak disuruh ingat banyak hal: jadwal, aturan, tata krama, nada suara, ekspresi wajah, dan—ini yang paling berat— perasaan orang dewasa.

Ia harus tahu kapan boleh ketawa, kapan harus diam, kapan aman bertanya, kapan lebih baik pura-pura ngerti.

Lalu ketika ia lupa satu hal kecil, kita geleng-geleng kepala.

“Baru juga dibilangin.” “Kok gampang lupa sih?”

Padahal kepalanya sudah seperti browser dengan 27 tab terbuka dan satu lagu random muter tanpa bisa di-pause.

Anak bukan pelupa. Ia kelebihan beban.

Dan anehnya, orang dewasa sering lupa bahwa lupa adalah gejala lelah, bukan kurang niat.

Lalu soal menangis.

Menangis itu jujur. Sangat jujur.

Anak belum pandai memanipulasi narasi, belum lihai menyembunyikan luka, belum bisa bilang, “tidak apa-apa” sambil hati remuk.

Jadi ia menangis.

Dan kita bilang: “Ah, cengeng.” “Gitu doang nangis.” “Jangan lebay.”

Lucu ya, kita memaksa anak berhenti menangis agar terlihat kuat, padahal orang dewasa habis nangis diam-diam di kamar mandi, di motor, atau di parkiran.

Anak tidak cengeng. Ia masih jujur.

Jujur pada sedih. Jujur pada bingung. Jujur pada takut.

Ia belum belajar cara memalsukan ketenangan.

Ketika anak lupa, kita marah. Ketika anak menangis, kita risih.

Padahal dua-duanya adalah sinyal yang sama: “Aku lagi kewalahan.”

Anak yang sering dibilang pelupa belajar satu hal: “kepalaku bermasalah.”

Anak yang sering dibilang cengeng belajar satu hal: “perasaanku salah.”

Dan pelan-pelan, ia berhenti lupa bukan karena lebih ringan, tapi karena tegang.

Ia berhenti menangis bukan karena kuat, tapi karena menahan.

Dari luar terlihat “dewasa”. Di dalam penuh simpul.

Mungkin yang perlu dikurangi bukan air matanya, tapi bebannya.

Bukan ingatannya, tapi tekanan di sekitarnya.

Karena anak tidak butuh diubah jadi tangguh instan.

Ia butuh ruang untuk lupa tanpa dihina dan menangis tanpa ditertawakan.

Sebab suatu hari nanti, ia akan belajar mengingat dan menguat dengan caranya sendiri.

Tanpa harus mematikan kejujuran demi terlihat baik-baik saja.


You May Also Like

0 komentar