Mengendapkan Puasa: Antara Lapar, Takwa, dan OOTD
(Seri Ketujuh)
Puasa itu dimulai dari lapar.
Lapar yang paling jujur.
Perut bunyi, kepala sedikit ringan, emosi gampang naik—tapi ditahan karena tahu: ini bagian dari proses.
Di hari-hari awal, puasa masih urusan fisik.
Jam segini biasanya ngopi.
Jam segitu biasanya ngemil.
Sekarang? Minum air liur.
Lalu masuk minggu kedua,
lapar mulai jinak.
Yang ribut justru pikiran.
Di titik ini, ceramah mulai terdengar masuk akal.
Tentang takwa.
Tentang menahan diri.
Tentang jarak antara ingin dan perlu.
Puasa naik level:
bukan lagi soal perut,
tapi soal ego.
Dan entah bagaimana,
di minggu ketiga,
takwa mulai terasa… abstrak.
Bukan karena tidak penting,
tapi karena perhatian mulai terpecah.
Timeline berubah.
Iklan baju bermunculan.
Caption mulai bergeser:
Dari
“semoga Allah terima ibadah kita”
menjadi
“bingung Lebaran pakai yang mana”.
Takwa masih ada,
tapi OOTD sudah antre.
Ini bukan sindiran keras.
Ini catatan manusiawi.
Karena puasa memang mengajak kita naik,
sementara Lebaran menggoda kita tampil.
Yang satu bekerja ke dalam,
yang satu bekerja ke luar.
Dan kita—
terjepit di tengah.
Ada momen lucu di sini.
Seseorang bisa sangat khusyuk tarawih,
lalu sangat serius memilih sepatu.
Bisa menangis di doa malam,
lalu galau karena warna baju tidak match.
Bukan munafik.
Bukan juga salah.
Ini hanya manusia
yang sedang mencoba menyeimbangkan langit dan etalase.
Masalahnya bukan OOTD.
Masalahnya kalau takwa ikut dipakai sebagai aksesoris.
Ketika puasa selesai bukan dengan hening,
tapi dengan kebutuhan untuk terlihat “selesai”.
Padahal takwa itu tidak butuh difoto.
Ia tidak minta di-tag.
Ia cukup tahu dirinya ada.
Puasa yang benar-benar mengendap
tidak panik soal tampil.
Ia boleh rapi,
boleh wangi,
boleh baru—
tanpa merasa perlu membuktikan apa-apa.
Karena yang lapar sudah lewat.
Yang ditahan sudah dilewati.
Dan takwa—
kalau memang tumbuh—
tidak akan kalah oleh OOTD.
Ia akan tetap tinggal,
bahkan setelah bajunya digantung kembali di lemari.
0 komentar