Ramadan Usai, Siapa yang Benar-Benar Kenyang?
(Seri Kesepuluh — Epilog)
Ramadan akhirnya selesai.
Takbir dikumandangkan.
Panci kembali bekerja penuh.
Lemari dibuka, baju baru keluar, kamera depan diaktifkan.
Semua tampak kenyang.
Tapi pertanyaannya bukan itu.
Yang lebih jujur justru:
siapa yang benar-benar kenyang?
Ada yang kenyang karena sebulan menahan diri,
lalu pelan-pelan belajar memilih mana yang perlu dan mana yang bisa dilepas.
Ada juga yang kenyang karena akhirnya bebas,
bebas makan, bebas bicara, bebas pamer,
seolah puasa hanyalah masa tunggu sebelum hidup kembali “normal”.
Ramadan itu aneh.
Ia datang bukan untuk membuat kita kuat,
tapi untuk menunjukkan betapa rapuhnya kita
saat lapar saja sudah gelisah.
Sebulan penuh kita diajak berhenti.
Berhenti mengunyah.
Berhenti bereaksi.
Berhenti merasa paling benar.
Sebagian berhasil duduk tenang di situ.
Sebagian lain cuma menunggu azan magrib
sambil menghitung jam.
Lebaran datang seperti cermin besar.
Bukan untuk melihat baju,
tapi untuk melihat:
apa yang tersisa setelah latihan selesai?
Ada yang setelah Ramadan
lebih pelan bicaranya,
lebih hati-hati menilai hidup orang lain.
Ada juga yang kembali sama persis,
hanya jadwal makannya berubah.
Kenyang ternyata bukan soal perut.
Perut mah gampang diisi.
Yang susah itu
kenyang batin.
Kenyang karena tidak lagi haus validasi.
Kenyang karena tidak perlu menang di setiap obrolan.
Kenyang karena bisa pulang ke rumah dengan hati ringan,
tanpa perlu menjelaskan pencapaian.
Puasa tidak menjanjikan kita jadi lebih suci.
Ia hanya membuka kesempatan
untuk jadi lebih sadar.
Kalau setelah Ramadan
kita masih mudah tersinggung,
masih sibuk membandingkan,
masih merasa hidup orang lain adalah kompetisi—
mungkin yang kenyang hanya tubuhnya.
Dan itu pun tidak lama.
Epilog ini tidak menghakimi.
Saya juga masih belajar.
Kadang kenyang,
kadang masih lapar pengakuan.
Tapi setidaknya sekarang saya tahu:
puasa bukan tentang menahan lapar,
dan Lebaran bukan tentang merayakan diri.
Ramadan usai,
latihan selesai.
Sisanya bukan soal siapa paling taat,
tapi siapa yang pulang
dengan batin paling tenang.
Kalau itu belum saya capai,
tidak apa-apa.
Ramadan akan datang lagi.
Dan saya—
masih ingin belajar kenyang,
tanpa harus kekenyangan.
0 komentar