Ramadan, Puasa, dan Panggung Terakhir Bernama Lebaran

by - 6:00 AM

 


(Seri Kelima)

Ramadan itu sebenarnya ruang latihan.
Lampunya redup, suaranya pelan, dan penontonnya—kalau jujur—cuma diri sendiri.

Di sana kita belajar menahan.
Bukan cuma lapar, tapi dorongan untuk bereaksi.
Bukan cuma haus, tapi keinginan untuk selalu tampil benar.

Sebulan penuh, hidup seperti gladi resik.
Kita pura-pura tenang, pura-pura sabar,
sambil berharap: nanti ada hasilnya.

Lalu datanglah Lebaran.
Lampu dinyalakan.
Tirai dibuka.
Dan tanpa aba-aba, panggung terakhir dimulai.

Aneh memang.
Puasa mengajarkan menepi,
tapi Lebaran sering berubah jadi pusat perhatian.

Yang tadinya diam, mulai bicara.
Yang tadinya sederhana, mendadak berkilau.
Yang tadinya bilang “yang penting niat”,
sekarang sibuk memastikan niat itu terlihat.

Lebaran jadi panggung evaluasi sosial.
Siapa pulang pakai apa.
Siapa datang bawa siapa.
Siapa tampak “berhasil” melewati setahun terakhir.

Padahal puasa tidak pernah meminta itu.

Puasa tidak menyiapkan kita untuk tampil.
Ia menyiapkan kita untuk selesai.

Selesai dengan keinginan membandingkan.
Selesai dengan kebutuhan dipuji.
Selesai dengan kebiasaan menjadikan hidup orang lain sebagai cermin nilai diri.

Tapi manusia dewasa sering salah paham.
Ia mengira akhir latihan adalah pertunjukan.
Padahal akhir latihan adalah pulang.

Lebaran mestinya bukan panggung,
melainkan pintu keluar.

Keluar dari kompetisi.
Keluar dari drama batin.
Keluar dari ilusi bahwa hidup harus selalu tampak menang.

Yang berhasil berpuasa bukan yang paling rapi di foto keluarga,
tapi yang bisa duduk tenang
tanpa merasa perlu menjelaskan apa-apa.

Ia datang Lebaran bukan untuk unjuk hasil,
tapi untuk menutup bab.

Menutup dengan maaf.
Dengan senyum seadanya.
Dengan hati yang tidak lagi lapar,
meski meja penuh hidangan.

Kalau pun Lebaran disebut panggung,
maka panggung itu seharusnya kosong.

Karena yang benar-benar selesai berpuasa
tidak butuh sorotan.

Ia sudah pulang ke dirinya sendiri.

You May Also Like

0 komentar