Anak Tidak Lambat, Dunia yang Terlalu Ngebut

by - 12:00 AM

Ada momen kecil tapi sering: anak lagi pakai sepatu.

Satu kaki. Lama. Sangat lama.

Orang dewasa mulai gelisah. Jam dinding terdengar lebih keras. Nada suara naik setengah oktaf.

“Cepet dong.” “Kok lama banget sih?” “Aduh, mama papa udah telat.”

Padahal si anak sedang melakukan sesuatu yang penting: mengkoordinasikan tubuhnya sendiri.

Sementara dunia di sekitarnya sudah hidup dengan mode: ngebut.

Bangun cepat. Makan cepat. Jalan cepat. Jawab cepat. Sukses cepat. Sembuh cepat. Move on cepat.

Anak lahir ke dunia yang bahkan orang dewasanya saja sering ngos-ngosan.

Kita menyebut anak lambat karena ia tidak mengikuti tempo kita.

Padahal mungkin kitalah yang terlalu jauh berlari dan lupa menoleh ke belakang.

Anak berjalan sambil melihat kupu-kupu. Kita berjalan sambil melihat jam.

Anak berhenti karena penasaran. Kita berhenti karena sinyal merah.

Anak mengulang-ulang cerita bukan karena lupa, tapi karena sedang memastikan perasaannya aman.

Lalu kita bilang: “Udah, jangan diulang.” “Kok gitu aja lama?” “Dari tadi juga di situ-situ aja.”

Lucu ya, kita menuntut anak cepat padahal hidup orang dewasa penuh penundaan emosional.

Kita sendiri sering butuh waktu lama untuk memahami diri, tapi anak dituntut paham hidup dalam satu tarikan napas.

Anak tidak lambat. Ia sedang belajar.

Belajar mengikat tali. Belajar menamai rasa. Belajar memahami dunia yang terlalu besar untuk kepalanya.

Dan belajar itu bukan sprint. Itu ritual pelan.

Kalau anak dipaksa cepat, yang sering terjadi bukan mahir, tapi cemas.

Bukan mandiri, tapi takut salah.

Bukan dewasa, tapi terbiasa ditekan.

Anak yang dikejar-kejar waktu belajar satu hal diam-diam: “aku selalu terlambat” “aku selalu kurang cepat” “aku merepotkan”

Padahal yang terlambat sebenarnya bukan anaknya.

Yang terlambat itu dunia memberi ruang bernapas.

Kadang yang anak butuhkan bukan teriakan “ayo cepat”, tapi orang dewasa yang berani berkata: “Ya sudah, kita pelanin sedikit.”

Karena anak bukan mesin produksi. Ia manusia kecil yang sedang menyusun dunia sambil belajar berdiri di dalamnya.

Jadi mungkin, anak tidak lambat.

Ia hanya berjalan dengan kecepatan yang manusiawi.

Dan kita? Sedang belajar menurunkan gigi dari ngebut ke hadir.



You May Also Like

0 komentar