Semua Orang Punya Pendapat Tentang Hidup Kamu

by - 6:00 AM


Saya ini aslinya anak kampung Jawa Barat.
Sekarang menetap di kota.
Setiap pulang ke kampung mertua di Jawa,
saya selalu masuk mode: hemat bicara.

Bukan karena sombong.
Tapi karena bahasa Jawa saya pas-pasan.
Ngomong kebanyakan takut salah unggah-ungguh,
salah krama,
salah panggilan,
dan akhirnya salah hidup.

Nama-nama Jawa lama itu,
jujur saja…
otak saya sering korslet.

Mbah Ngatiyem.
Bude Ngatijem.
Mbah Sagiyem.
Mbah Sarinem.

Di kepala saya,
itu seperti password WiFi yang hampir sama semua.

Salah sebut satu huruf,
efeknya bisa lebih parah dari typo di email kantor.

Sementara di kampung saya dulu,
nama-nama sederhana dan ramah memori:

Ana.
Ani.
Ina.
Emeh.
Emih.
Emoh.
Emah.

Kalau salah panggil pun,
paling diketawain.

Di sini?
Salah panggil,
langsung dicatat batin.

Karena di kampung,
diam itu bukan netral.

Diam itu bahan interpretasi.

Saya ngobrol seperlunya,
jawab sopan,
lebih banyak senyum.

Di kepala saya:
“Biar aman.”

Di kepala mereka:
“Oh… sombong.”

Padahal saya cuma mikir keras:
“Itu tadi mbah siapa ya…
jangan-jangan saya barusan manggil bude jadi mbah.”

Yang lucu,
di kampung semua orang punya pendapat tentang hidup kamu,
meskipun mereka tidak tahu seluruh ceritanya.

Kamu pendiam → dingin
Kamu banyak ngomong → kurang ajar
Kamu hemat bicara → sok kota
Kamu salah panggil → tidak menghormati leluhur

Tidak ada pilihan netral.

Pendapat itu muncul bukan karena niat jahat,
tapi karena budaya kampung memang hidup dari tafsir sosial.

Kalau kamu tidak banyak cerita,
orang akan mengisinya dengan asumsi.

Dan asumsi di kampung itu cepat sekali matang.

Belum sempat kamu menjelaskan,
kesimpulan sudah keliling rumah.

Saya tahu mereka tidak jahat.
Saya tahu itu bagian dari ekosistem sosial kampung.

Tapi tetap saja rasanya absurd:
saya dianggap sombong,
padahal saya cuma sedang berjuang mengingat
apakah tadi itu Mbah Ngatiyem
atau Bude Ngatijem.

Akhirnya saya pasrah.
Kalau disangka sombong, ya sudah.

Karena di kampung,
yang penting bukan apa niatmu,
tapi apa yang terlihat dan terdengar.

Dan kadang,
yang paling sopan memang bukan yang paling banyak bicara,
tapi yang tidak mempermalukan siapa pun—
termasuk dirinya sendiri.


You May Also Like

0 komentar