Monumen Kecil untuk Jari yang Pernah Ingin Nampol Online
Saya punya satu keyakinan sederhana, tapi cukup akurat untuk dijadikan bahan tertawaan:
setiap orang yang pernah marah-marah di internet, suatu hari pasti membuka akun lamanya… lalu buru-buru menutupnya lagi. Kalau bisa, dihapus sekalian. Kalau tidak bisa, minimal pura-pura lupa password.
Saya tahu itu karena saya juga manusia. Pernah ada fase ketika komentar orang lain terasa seperti undangan duel, dan kolom komentar seperti arena gladiator. Ada dorongan heroik—atau lebih tepatnya bodoh—untuk membalas, meluruskan, mendidik, bahkan sesekali ingin nampol online. Untungnya layar kaca tidak punya pipi.
Dulu saya sering tertawa melihat status orang tentang relasi:
“5 hal yang seharusnya dilakukan suami.”
“Aturan wajib istri yang benar.”
Saya komentar santai, hampir bercanda: biasanya orang yang rajin bikin daftar seperti itu sedang punya masalah dengan pasangannya sendiri. Relasi intim kok diumbar ke publik, seperti jemuran handuk basah di jalan raya.
Responnya? Defensif.
Marah.
Nada naik.
Saya? Tertawa.
Bukan karena saya lebih benar, tapi karena saya sudah mencium polanya. Ini bukan diskusi, ini katup emosi yang sedang dibuka.
Sekarang, kalau saya bayangkan bertemu orang-orang itu di dunia nyata, rasanya tidak ada drama. Paling kami kikuk sebentar, lalu tertawa. Karena fase sudah bergeser. Ego sudah turun kelas. Tidak ada lagi yang perlu dibela, apalagi dimenangkan.
Saya mulai sadar: ribut di internet itu sering kali seperti kucing yang merasa jago, padahal sedang mengejar ujung stick mainan. Stick-nya dipegang akun-akun absurd bernama anunews, kasurnet, atau entah apa. Kita merasa bertarung demi prinsip, padahal cuma sedang dipancing reaksi.
Dan lucunya, hampir semua keyboard warrior di dunia nyata itu… manusia biasa. Kalau ketemu fisik, paling cengengesan. Duel yang katanya siap terjadi tinggal 0,00001%. Sisanya pulang, rebahan, lalu mikir:
“Anjir, tadi ngapain sih ribut?”
Artikel ini saya tulis bukan untuk menghakimi siapa pun. Ini monumen kecil buat saya sendiri. Pengingat halus bahwa keinginan untuk nampol online itu bukan tanda keberanian—itu cuma tanda saya lagi capek, lapar, atau lupa bahwa semua ini… cuma fase.
Kalau suatu hari saya gatal lagi ingin balas komentar, saya harap monumen ini berdiri tegak di kepala saya, sambil berbisik:
“Tenang. Itu cuma kucing. Stick-nya bukan di tanganmu.”
Lalu saya tutup aplikasi.
Dan hidup berjalan lagi, tanpa perlu menang apa pun.
0 komentar