Ada Harimau di Dalam Dada, dan Ia Tidak Percaya Psikolog

by - 12:00 PM


Saya membaca Lelaki Harimau bukan dengan rasa takut, tapi dengan rasa dikenali.
Karena siapa pun yang sudah cukup lama hidup sebagai manusia dewasa, cepat atau lambat akan sadar:
kita semua menyimpan sesuatu yang berbulu di dalam dada.

Margasari bukan lelaki yang tiba-tiba berubah jadi harimau karena bulan purnama atau salah mantra.
Ia berubah karena warisan.
Karena luka yang tidak selesai.
Karena emosi yang tidak punya tempat pulang.

Ayahnya dukun.
Bukan dukun Instagram yang pakai caption “energi positif”, tapi dukun betulan—yang menanam sesuatu di tubuh anaknya, lalu mati sebelum menjelaskan risikonya.

Klasik.
Orang tua sering meninggalkan kita bukan hanya dengan nama keluarga, tapi juga dengan konflik yang belum kita minta.

Harimau dalam tubuh Margasari bukan sekadar makhluk gaib.
Ia adalah amarah yang tidak pernah diberi bahasa.
Ia adalah kekerasan yang diwariskan tapi tidak pernah dibicarakan.
Ia adalah suara batin yang terlalu liar untuk diterima masyarakat desa—atau grup WhatsApp keluarga.

Margasari membunuh.
Dan anehnya, pembaca tidak langsung ingin menghukumnya.
Kita justru bertanya pelan:
“Seberapa lama harimau itu dikurung sebelum akhirnya menerkam?”

Eka Kurniawan tidak sedang menulis cerita horor.
Ia sedang menulis otobiografi kolektif bangsa yang terbiasa menyuruh anak-anaknya diam, sabar, nrimo—lalu kaget ketika mereka meledak.

Di desa, harimau dianggap kutukan.
Di kota, ia mungkin disebut anger issue.
Di rumah, ia sering dipanggil “jangan kurang ajar”.

Saya membaca Lelaki Harimau sambil merinding, bukan karena darah,
tapi karena saya tahu:
kalau saja hidup saya sedikit lebih keras,
sedikit lebih sunyi,
sedikit lebih tidak diberi ruang bicara—
mungkin saya juga tumbuh dengan cakar.

Novel ini membuat saya paham satu hal yang menenangkan sekaligus menakutkan:
tidak semua kejahatan lahir dari niat jahat.
Sebagian lahir dari emosi yang terlalu lama dipenjara.

Dan mungkin itu sebabnya saya suka surealisme.
Karena hanya lewat cerita orang berubah jadi harimau,
kita bisa jujur mengakui:

kadang yang paling buas
bukan makhluk di hutan,
tapi luka yang diwariskan sambil berkata,
“Sudah, jangan dibahas. Itu aib.”

Margasari gagal jadi manusia seutuhnya.
Bukan karena ia harimau.
Tapi karena tidak ada yang mau mendengarkan manusia
sebelum harimaunya terbangun.

You May Also Like

0 komentar