Syahwat Dijual Paket Hemat, Gratis Caption Estetik
Saya ini mantan anak kampung.
Di kampung, urusan nafsu itu dibicarakan pelan-pelan.
Pakai kode.
Pakai batuk.
Pakai kalimat: “ah… itu mah sudah dewasa.”
Kalau ada yang terlalu genit?
Langsung dapat cap: “kurang jaga diri.”
Selesai. Tidak ada diskusi lanjutan. Tidak ada kolom komentar.
Lalu saya pindah ke kota.
Dan saya kaget.
Ternyata syahwat tidak lagi disembunyikan.
Ia dikurasi.
Pose dijual.
Sensasi dijual.
Aura “aku tidak sengaja seksi” juga dijual.
Bahkan kepolosan pun bisa dikapitalisasi.
Semakin terlihat tidak niat, semakin laku.
Saya bengong.
Ini kok rasanya beda ya dengan cerita dosa yang dulu saya dengar?
Di kampung, kalau aurat sedikit terbuka, langsung ditegur.
Di kota, aurat dibuka setengah, ditutup filter, lalu diberi caption:
“Self-love journey ✨”
Anak kampung ini bingung:
“Kok ini bukan dosa, tapi konten?”
Kota menjawab dengan tenang, sambil mengatur algoritma:
“Kalau pakai filter, itu bukan maksiat. Itu engagement.”
Saya pelajari pelan-pelan.
Ternyata yang dijual bukan tubuh semata, tapi ilusi kendali.
Bukan “aku ingin dilihat”,
tapi “aku memilih untuk dilihat”.
Bukan nafsu mentah,
tapi nafsu yang sudah diedit, di-crop, dan disesuaikan jam prime time.
Di kampung, syahwat itu liar dan ditakuti.
Di kota, syahwat itu dipelihara, diberi makan likes, dan dimandikan insight.
Yang lebih bikin saya kaget,
ini tidak lagi dianggap urusan moral, tapi urusan strategi konten.
Kalau sepi, tambah pose.
Kalau turun, ganti angle.
Kalau viral, bilang: “aku tidak menyangka.”
Saya mulai paham.
Di kota, syahwat bukan musuh.
Ia adalah aset.
Dan seperti semua aset,
kalau tidak dikelola, katanya, sayang.
Saya tidak menghakimi.
Saya hanya mencatat.
Bahwa di tempat saya tumbuh, nafsu itu disuruh ditahan.
Di tempat saya tinggal sekarang, nafsu disuruh produktif.
Akhirnya saya berdamai lagi.
Ini bukan soal benar atau salah.
Ini soal ekosistem.
Di kampung, dosa itu sunyi.
Di kota, dosa punya admin, jadwal posting, dan link bio.
Dan saya?
Masih sering senyum sendiri sambil mikir:
Dulu orang malu kelihatan.
Sekarang orang malu kalau tidak kelihatan.
0 komentar