Sage, Shimmer, dan Telur Paskah: Ketika Lebaran, Yesus, dan Kinder Joy Saling Senggol

by - 9:00 AM

Jauh sebelum Ramadhan masuk kalender,

bahkan sebelum hilal mulai dicari pakai teleskop dan doa,
dress code Lebaran sudah ditetapkan.

Terutama untuk perempuan.

Pria?
Santai.
Baju koko.
Atau kaos berkerah yang kalau disetrika asal panas sudah sah.
Selesai.

Fashion Lebaran dan Kepala Pria yang Ikut Kusut

Untuk perempuan, Lebaran itu seperti Paris Fashion Week versi pahala.

Tiap tahun ganti tema: Tahun ini sage, Tahun depan shimmer, Lalu plisket, Disusul kemeja terusan, Dengan detail lipatan yang kalau salah setrika, bisa langsung pensiun dini

Sebagai pria, saya sering bengong: “Ini bajunya dilipat apa disemayamkan?”

Detailnya kecil-kecil, ringkih, penuh filosofi entah apa.
Sementara kami kaum pria: “Yang penting rapi, nggak bau, dan bisa sholat.”

War Lebaran: Lintas Iman Turun ke Mall

Yang lebih lucu,
muslimah Indonesia sendiri sering nggak kebagian dress code Lebaran.

Kenapa?

Karena lintas iman ikut war.

Bukan buat sholat Id,
tapi katanya: “Buat war takjil.” 😅

Mall rame.
Marketplace panas.
Diskon Lebaran jadi festival toleransi.

Dan jujur, saya senang.
Roda ekonomi muter.
UMKM senyum.
Kurir ngos-ngosan tapi bahagia.

Ketika Kristen Terlihat Lebih Islami

Puncaknya, ada konten kreator Kristen yang bikin konten: “Dress Code Lebaran Tahun Ini

Busananya rapi.
Warna adem.
Hijab styling-nya on point.
Vibenya… islamiable banget.

Netizen langsung refleks: “Hati-hati mba… asyhadu…”

🤣🤣🤣

Di titik ini, iman benar-benar kalah cepat dari algoritma.

Balas Dendam Telur Paskah

Musim berganti.
Lebaran lewat.
Datanglah Easter Egg.

Dan entah kenapa,
kami yang muslim seperti ingin balas dendam simbolik. “Kami mau borong telur Paskah biar kalian lukis pakai Kinder Joy.”

😅

Tidak ada fatwa.
Tidak ada debat akidah.
Yang ada: humor lintas iman.

Anak-anak tertawa.
Orang dewasa senyum.
Semesta Indonesia ikut ngakak kecil.

Bhineka Tunggal Ika Versi Mall dan Marketplace

Di sinilah saya sadar:

Toleransi Indonesia itu sering tidak hadir di seminar,
tapi di: rak baju diskon, antrean kasir, kolom komentar yang iseng tapi hangat

Bukan toleransi yang ribut soal siapa paling benar,
tapi toleransi yang: “Yaudah, pakai aja. Yang penting rukun.”

Sejenak kita bernafas
dari reduksi ayat demi ego sentris,
dari merasa paling suci hanya karena seragam dan simbol.

Epilog: Biarkan Langit Indonesia Teduh

Mungkin Tuhan tersenyum melihat ini: Lebaran dirayakan lintas iman, Paskah jadi bahan bercanda bersama, Sage dan shimmer mengalahkan debat kusir

Bhineka Tunggal Ika bukan slogan mati.
Ia hidup di: baju yang dipakai bukan pemeluknya, telur yang dibeli bukan umatnya, tawa yang tidak tanya agamanya

Dan langit Indonesia,
untuk sesaat,
jadi lebih teduh.

😌🇮🇩


You May Also Like

0 komentar