Dari Timur Tengah ke Jok Motor: Riwayat Hidup Burung Gereja yang Akhirnya Mualaf
Burung gereja—atau dalam buku biologi sok serius disebut Passer montanus—bukan burung lokal yang tiba-tiba muncul karena takdir atau doa warga komplek. Ia ini pendatang lama. Leluhurnya berasal dari kawasan Eurasia: Eropa, Asia Barat, hingga Asia Selatan. Intinya, sejak awal ia sudah terbiasa hidup di wilayah yang penuh manusia, konflik, dan remah-remah makanan.
Ia bukan burung sawah. Itu urusan burung pipit. Pipit punya idealisme: padi, langit terbuka, lumpur, dan romantika agraris. Burung gereja tidak. Burung gereja itu pragmatis. Di sawah, panen musiman. Di pemukiman, nasi selalu ada. Kadang basi, kadang jatuh, kadang disedekahkan dengan ikhlas setengah terpaksa.
Sejarah panjang hidup berdampingan dengan manusia membuat burung gereja berevolusi bukan secara fisik, tapi secara mental. Ia hafal jam makan manusia. Ia tahu rumah mana yang empunya gampang iba. Ia tahu balkon mana yang sering dipakai mikir hidup sambil bengong. Ia tahu motor mana yang diparkir tanpa pelindung jok.
Karena itu ia memilih pemukiman. Bukan karena ia cinta manusia, tapi karena manusia boros karbohidrat.
Burung Sosial Tanpa KTP dan Tanpa Etika Parkir
Berbeda dengan burung pipit yang setia pada sawah, burung gereja hidup nomaden mikro. Hari ini di rumah Pak RT, besok di rumah cici penganut Konghucu, lusa di teras mba Yuli yang Kristen, sore mampir di sela-sela masjid. Ia tidak pernah bertanya:
“Ini rumah siapa?”
Ia hanya bertanya satu hal:
“Ada nasi?”
Dan di mana ada nasi, di situ ada iman—versi burung.
Ia tidak pernah memperdebatkan perbedaan. Ia tidak ikut diskusi toleransi. Ia mempraktikkannya langsung. Ia makan di semua tempat, dan sebagai bentuk konsistensi ideologis, ia berak di semua tempat.
Itu bukan penghinaan. Itu keadilan distributif.
Dari Burung Gereja Menjadi Burung Toleransi
Manusia ribut soal toleransi lintas iman, burung gereja sudah lama melampaui itu. Ia tidak mengenal sekat teologis. Ia hanya mengenal dua kategori:
- Ada makanan
- Tidak ada makanan
Jika ada yang menyebut burung gereja sebagai simbol toleransi, itu masuk akal. Ia tidak eksklusif. Ia tidak fanatik. Ia tidak loyal. Ia oportunis yang jujur.
Dan justru karena itu, ia diterima di mana-mana.
Apakah Ia Sudah Mualaf?
Pertanyaan penting ini akhirnya muncul saat ia bertengger tenang di sela-sela masjid, setelah sebelumnya sarapan di rumah non-muslim dan makan siang di teras warga lain.
Jawabannya: secara administratif, belum.
Tapi secara perilaku?
Ia sudah sangat Islami.
Ia: hidup sederhana, makan secukupnya (walau sering nambah), tidak menyimpan harta, dan rajin bersuci… di jok motor orang lain
Kalau iman itu soal praktik, bukan deklarasi, maka burung gereja sudah sampai tahap akhlaq—meski akhlaqnya bikin manusia ngelap jok sambil ngumpat.
Penutup: Kita yang Ribut, Burungnya Santai
Akhirnya kita sadar, burung gereja tidak pernah merasa berdosa. Yang merasa berdosa itu manusia—karena ngasih makan tapi lupa konsekuensi.
Burung gereja hanya hidup.
Lintas iman, lintas rumah, lintas kesabaran.
Dan setiap kali kita kesal melihat jok motor penuh hadiah biologis, mungkin burung gereja sedang berpikir: “Manusia ribet amat. Gue cuma makan, terus hidup.”
Dan mungkin, justru itu pelajaran toleransi paling jujur hari ini. 😄🕊️💩
0 komentar