Pergi ke Kota Dibilang Lupa Asal, Pulang Kampung Dibilang Sok Kota

by - 12:00 PM


Culture shock itu sebenarnya bukan benturan nilai.
Lebih sering cuma kaget temporer,
ditambah badan capek dan batin belum sempat parkir.

Baru datang ke kampung,
belum sempat duduk,
belum sempat minum,
sudah ditanya:

“Bawa apa?”

Saya tahu itu bercanda.
Mode humor kampung.
Mode keakraban.

Tapi fisiologi saya sedang tidak ikut bercanda.

Badan capek.
Kepala masih di jalan.
Emosi masih injak rem dari kota ke desa.

Jadi saya diam.
Bukan karena pelit.
Bukan karena lupa asal.
Tapi karena hemat energi.

Diam itu bukan sikap.
Diam itu strategi bertahan hidup.

Di rumah ibu, saya ingin istirahat.
Tapi ada saudara datang.
Saya tidak keluar rumah.

Bukan karena sombong.
Bukan karena merasa lebih.
Tapi karena ingin jadi manusia sebentar.

Lalu terdengar bisik-bisik:
“Sekarang sudah beda ya…
nggak mau injak rumah bibi atau budhe.”

Padahal yang tidak diinjak itu cuma…
niat untuk drama.

Saat pamit balik ke kota,
karena hidup saya di sana,
kerja di sana,
sekolah anak-anak di sana,
selalu ada komentar penutup yang absurd:

“Wah… nggak betah lama di desa ya.”

Saya senyum.

Padahal yang sebenarnya terjadi bukan tidak betah.
Tapi hidup saya sudah punya ritme sendiri.

Di kota, saya dianggap lupa asal.
Di kampung, saya dianggap sok kota.

Di dua tempat itu,
saya tetap orang yang sama.
Yang berubah hanya jarak pandang orang lain.

Akhirnya saya paham:
culture shock ini bukan soal kota melawan kampung.
Bukan soal siapa lebih hangat atau lebih dingin.

Ini soal fase hidup yang berbeda.

Orang kampung hidup dari kebersamaan yang terus menyala.
Orang kota hidup dari jadwal yang terus berjalan.

Dan saya berdiri di tengahnya,
bukan kehilangan akar,
juga bukan sedang membangun menara.

Hanya orang dewasa
yang capek,
punya tanggung jawab,
dan ingin pulang—
di mana pun itu artinya.

Culture shock akan reda.
Kagetnya sementara.

Yang tinggal cuma satu hal:
belajar memaklumi,
tanpa harus menjelaskan segalanya.

Karena tidak semua diam itu sombong.
Dan tidak semua pergi itu lupa asal.

Kadang,
itu cuma tanda
bahwa seseorang sedang menjaga hidupnya
agar tetap utuh.


You May Also Like

0 komentar