Aku Lelah Beribadah Seperti Pedagang
Ada fase dalam hidup ketika seseorang berhenti berdebat dengan dunia, bukan karena menang, tapi karena capek. Capek membenarkan diri sendiri. Capek terlihat paling lurus. Capek memastikan niat selalu tampak suci di mata orang lain. Di fase itu, pertanyaan berubah. Bukan lagi apa yang benar, melainkan mengapa aku melakukan semua ini.
Di titik itulah, saya mulai memahami mengapa seorang perempuan bernama Rabiah al-Adawiyah berani mengucapkan kalimat yang membuat banyak orang gelisah. Kalimat yang terdengar seperti pembangkangan, padahal justru lahir dari kepatuhan yang paling sunyi.
Rabiah tidak lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari kehilangan. Miskin sejak awal, menjadi budak, orang tuanya wafat dalam wabah. Hidupnya tidak memberinya cukup ruang untuk bersandar pada dunia. Maka ia hanya punya satu pilihan: bersandar ke dalam. Ke sesuatu yang tidak bisa dirampas.
Dalam malam-malam panjang di Basrah, ketika tubuh manusia lain tidur dengan kepastian esok hari, Rabiah mendengar suara yang menggetarkan jiwanya:
“Jika kau menyembah-Ku karena surga atau neraka, kau belum mengenal Cinta.”
Kalimat itu bukan penghiburan. Ia adalah pisau. Membelah jiwanya menjadi dua: satu sisi masih takut dihukum, sisi lain rindu mencintai tanpa syarat. Dan Rabiah—seperti semua orang yang sudah terlalu lama hidup dalam luka—memilih jalan yang paling berbahaya: mencintai tanpa pegangan.
Ia tahu risikonya. Dicurigai. Dituduh. Disalahpahami.
Suatu malam, para sufi besar berkumpul. Menunggu penjelasannya. Hasan al-Basri, dengan wibawa dan kecerdasan yang tak diragukan, melontarkan pertanyaan yang mewakili kegelisahan banyak orang:
“Bagaimana mungkin kau mengatakan ingin membakar surga dan memadamkan neraka?”
Rabiah tidak membalas dengan argumen. Ia tidak berdiri sebagai pemenang debat. Ia hanya menangis. Dan dari air mata itulah keluar kalimat yang justru paling jujur:
“Karena aku melihat manusia beribadah seperti pedagang—menghitung untung dan rugi.”
Di sana saya terdiam.
Karena betapa seringnya kita melakukan hal yang sama. Kita menyebutnya iman, padahal sering kali itu hanya strategi. Kita menyebutnya taat, padahal itu ketakutan yang dipoles. Kita rajin bukan karena cinta, tapi karena takut rugi.
Rabiah menulis, “Aku mencintai-Mu dengan dua cinta—cinta karena diriku, dan cinta karena diri-Mu.”
Kalimat itu bukan kesombongan spiritual. Ia pengakuan. Bahwa manusia selalu memulai dari ego, tapi ada kemungkinan—dengan luka, kesendirian, dan kejujuran—untuk melampauinya.
Ia menolak lamaran para wali. Hidup sederhana. Menangis dalam sepi. Bukan karena ingin tampak suci, tapi karena tidak punya apa-apa lagi untuk dipegang selain cinta itu sendiri. Bukan surga. Bukan neraka. Bukan citra.
Dari Rabiah, lahir gelombang tasawuf yang tidak meniadakan hukum, tapi menembus maknanya. Surga dan neraka tidak lagi dilihat sebagai tujuan, melainkan sebagai cermin keadaan jiwa. Jiwa yang mencintai akan merasakan surga, bahkan di tengah derita. Jiwa yang terjebak transaksi akan membawa neraka ke mana pun ia pergi.
“Membakar surga dan memadamkan neraka” bukan ajakan untuk menolak ajaran. Ia metafora pembebasan. Pembebasan dari ibadah yang penuh hitungan. Dari cinta yang selalu minta jaminan.
Rabiah tidak menolak surga dan neraka. Ia hanya menolak menjadikannya alasan untuk mencintai Tuhan.
Dan mungkin, di situlah letak kedewasaannya. Tuhan tidak membutuhkan penyembah yang sibuk mencatat pahala. Ia tidak kekurangan pengikut. Yang mungkin Ia cari adalah kekasih—yang mencintai-Nya bukan karena imbalan, tapi karena akhirnya lelah berbohong pada diri sendiri.
Dalam kesunyian itulah Rabiah menemukan satu hal yang sering luput dari kita:
yang dicari bukan tempat bernama surga, tapi Sang Pemilik segala tempat.
Dan bagi orang yang sudah terlalu lama berperang dengan batinnya sendiri, kebenaran seperti itu tidak lagi terasa menakutkan—melainkan melegakan.
0 komentar