Valentine: Februari Bunga & Cokelat, September Cicilan & Kenyataan

by - 6:00 PM


Valentine selalu datang dengan cara yang sama: tiba-tiba semua orang terlihat romantis. Toko bunga mendadak laris, cokelat naik kelas jadi simbol cinta, dan pria-pria yang biasanya pelit bensin rela muter kota demi satu buket yang harganya bikin mikir ulang makna kasih sayang.

Di Februari, cinta terlihat seperti lomba lari.
Pria mengejar wanita.
Dengan senyum, puisi hasil Googling, dan caption Instagram yang penuh hati merah.
Seolah cinta itu soal siapa paling niat hari ini.

Lucunya, narasi ini diterima bersama-sama, tanpa banyak tanya.
Padahal cinta versi Februari sering kali mirip promo musiman:
ramai, manis, dan habis setelah tanggal 14 lewat.

Lalu waktu berjalan.
Bunga layu.
Cokelat tinggal bungkus.
Dan cinta mulai masuk fase yang jarang difoto.

Masuklah September.

Di September, peran mulai bergeser halus tapi pasti.
Wanita mulai mengejar… tanggung jawab.
Bukan lagi ditanya “kamu suka cokelat apa?”
tapi “jadi rencana kita ke mana?”
bukan “aku kangen”
melainkan “kita ini serius atau cuma rajin ketemu?”

Di titik ini, cinta tidak lagi pakai pita.
Ia pakai tabel.
Anggaran.
Waktu.
Komitmen yang tidak bisa dibayar pakai kata-kata manis.

Ironisnya, banyak yang kaget.
“Loh kok jadi ribet?”
Padahal dari awal cinta memang tidak pernah sederhana—
hanya saja Februari keburu menutupinya dengan balon dan diskon restoran.

Valentine lalu sering disalahpahami.
Dikira puncak cinta, padahal baru pintu masuk.
Dikira bukti keseriusan, padahal baru tes niat jangka pendek.

Yang bertahan sampai September biasanya baru sadar:
cinta itu bukan soal mengejar,
tapi sanggup berjalan bareng tanpa kabur saat realitas muncul.

Maka wajar kalau ada yang jago di Februari tapi tumbang di September.
Karena mengejar itu seru.
Menanggung itu berat.

Dan mungkin, Valentine seharusnya tidak ditakuti atau dipuja berlebihan.
Ia cuma pengingat kecil:
romantis itu mudah,
bertanggung jawab itu mahal.

Selamat merayakan Valentine—
kalau mau.
Kalau tidak pun tidak apa-apa.
Karena cinta yang sehat biasanya tidak ribut soal tanggal,
tapi tenang saat ditanya:
“setelah ini, kita ngapain?” 😅

You May Also Like

0 komentar