Badan di Kota, Perut Masih Pulang Kampung
Badan saya tinggal di kota.
Alamatnya kota, rutinitasnya kota, macetnya kota.
Tapi kalau soal rasa, saya masih anak kampung yang keras kepala.
Saya masih lebih nyaman makan sederhana.
Masakan rumah.
Bumbu yang tidak perlu dijelaskan pakai bahasa Inggris.
Di kota, makanan jadi mahal bukan karena rasanya naik, tapi karena namanya.
Es teh berubah jadi ice tea—harganya enam ribu.
Saya beli es teh di warung, dua ribu rupiah, tidak habis pula, karena badan ini tidak kuat minuman dingin.
Bukan karena sok sederhana, memang begini dari dulu.
Lucunya, justru dari situ saya bisa menabung.
Bukan karena gaji besar.
Bukan karena hidup mewah.
Tapi karena saya tidak terlalu ingin menjadi orang lain.
Saldo di bank saya biasa saja.
Tidak mengilap.
Tidak bikin iri.
Tapi saya punya rumah—aset tetap.
Dan aset terbesar saya bukan itu.
Aset terbesar saya adalah pendidikan anak-anak.
Kadang, kalau lagi bengong, pikiran nakal suka muncul.
“Ngapain ya capek-capek nyekolahin anak di sekolah dengan SPP mahal?”
“Sekolah negeri gratis juga ada.”
“Saving-nya bisa banyak.”
Logikanya masuk.
Hitung-hitungan Excel-nya benar.
Tapi hidup tidak selalu soal Excel.
Selalu ada momen pulang—bukan pulang fisik, tapi pulang batin—
di mana saya ingat satu hal sederhana:
saya ini orang tua.
Dan anak-anak itu amanah.
Amanah bukan soal pamer pendidikan.
Bukan soal gengsi sekolah.
Tapi soal tanggung jawab:
selama saya mampu, saya jaga.
Bukan supaya anak-anak saya jadi paling pintar.
Bukan supaya mereka jadi “lebih dari orang lain”.
Tapi supaya mereka tumbuh dengan ketenangan—
tidak dibebani kecemasan yang seharusnya ditanggung orang tuanya.
Saya anak kampung.
Saya tahu rasanya hidup serba terbatas.
Dan justru karena itu, saya tidak ingin anak-anak saya tumbuh dengan rasa “kurang” yang sama, kalau sebenarnya saya bisa berbuat lebih.
Jadi ya,
saya tetap makan sederhana.
Tetap minum es teh dua ribuan.
Tetap heran melihat menu berbahasa Inggris untuk rasa yang sama.
Tapi untuk pendidikan,
saya tidak ingin berhemat pada hal yang membentuk manusia.
Karena akhirnya saya paham:
menabung itu penting,
aset itu penting,
tapi ketenangan batin sebagai orang tua
tidak bisa dicicil,
tidak bisa ditunda,
dan tidak bisa dibeli belakangan.
Dan mungkin itu definisi “pulang” versi saya sekarang.
Bukan kembali ke kampung secara fisik,
tapi menjaga nilai kampung
di tengah hidup kota.
Pelan.
Cukup.
Dan sadar,
bahwa amanah tidak selalu tentang apa yang terlihat,
tapi tentang apa yang membuat hati tenang
saat malam tiba.
0 komentar