Manual Hidup Orang Dewasa (Edisi Salah Cetak, Tanpa Garansi)

by - 12:00 AM


Saya mulai curiga hidup ini ditulis oleh editor yang sedang capek.
Waktu kecil, saya ingin cepat dewasa.
Sekarang sudah dewasa, saya ingin balik kecil—bukan karena nostalgia, tapi karena kecil itu legal untuk nangis tanpa alasan dan tidur siang tanpa rasa bersalah.

Dulu saya kira dewasa itu tenang.
Ternyata dewasa itu hanya versi mahal dari kebingungan masa kecil.
Bedanya, sekarang bingungnya sambil mikir cicilan.

Pernah ada fase hidup saya benar-benar tenang: nganggur.
Tenang batin, tenang jadwal, tenang dompet—eh salah, dompet panik.
Lalu saya kerja.
Dompet mulai bernapas, tapi jiwa saya yang sesak.
Sekarang hidup saya tidak tenang secara profesional.

Hal-hal kecil juga ikut berubah jadi beban eksistensial.
Saya cuma mau dine in, potong ayam dengan damai,
tapi entah kenapa dilihatin seperti sedang melakukan ritual ilegal.
Mas, ini ayam, bukan rahasia negara.

Lalu soal tetangga.
Tolong, jangan karaoke.
Kecuali suara kamu memang layak direkam, dicetak, dan dijadikan bukti peradaban.
Kalau tidak, itu bukan hiburan—itu teror pasif-agresif.

Dulu saya pengen punya istri.
Sekarang, di hari-hari tertentu, saya rindu status lajang seperti rindu masa promo.
Bukan karena tidak cinta, tapi karena ingin duduk diam lima menit tanpa merasa ada yang harus diselesaikan.

Dulu saya pengen uang.
Sekarang saya pengen uang banyak dan batin tenang.
Ternyata paket itu tidak dijual bundling.
Harus beli satu-satu, dan seringnya salah kirim.

Soal kepemilikan, hidup juga licik.
Kalau tidak nyicil, saya tidak punya apa-apa.
Tapi cicilan juga tidak memberi saya napas.
Ia duduk manis di dada, bilang pelan-pelan:
“Tenang, masih lama kok lunasnya.”

Beginilah celetukan orang dewasa.
Bukan keluhan, lebih ke catatan kaki kehidupan.
Kami tidak minta hidup sempurna.
Kami cuma ingin sedikit sunyi, sedikit cukup,
dan satu hari dalam seminggu tanpa harus kuat.

Kalau ini namanya dewasa,
saya paham kenapa anak kecil pengen cepat besar.
Mereka belum tahu:
dewasa itu bukan tujuan,
tapi kondisi kronis yang dikelola dengan bercanda.

You May Also Like

0 komentar