Mengapa Orang Sunda Bisa Ketawa di Tengah Usaha, dan Orang Jawa Bertanya: Ini Beneran Kerja?
Saya orang Sunda. Istri saya orang Jawa. Ini bukan pembuka konflik, ini pembuka observasi. Karena sejak menikah, saya pelan-pelan sadar: perbedaan kami bukan di selera makanan atau logat bicara, tapi di cara memandang hidup, kerja, dan… ketawa.
Saya bisa bercanda di tengah live jualan daster. Ketawa, nyeletuk, ngobrol ngalor-ngidul dengan emak-emak yang beli. Istri saya beberapa kali memperhatikan dengan wajah serius, lalu bertanya dengan nada tulus tapi curiga, “Kok bercanda mulu? Ini beneran kerja?”
Saya juga bingung menjawabnya. Karena bagi saya, justru itu caranya kerja.
Di kampung saya, orang Sunda, semiskin-miskinnya hidup, masih bisa ketawa. Bukan karena hidupnya ringan, tapi karena kalau semuanya dipikir berat, nanti nggak jalan sama sekali. Ada cabe di pekarangan, ada singkong di kebun, ada beras buat ditukar. Hidup itu bukan lomba, tapi rangkaian hari yang harus dilewati tanpa terlalu banyak menegangkan rahang.
Mungkin itu sebabnya, banyak ujar-ujaran hidup di tanah Sunda tidak punya pemilik. Tidak ada klaim. Tidak ada hak cipta. “Lamun keyeng tangtu pareng.” Kalau sungguh-sungguh, pasti ada jalan. Siapa yang pertama ngomong? Tidak penting. Yang penting kalimat itu hidup, berpindah dari mulut ke mulut, menjadi cara orang berdamai dengan keadaan.
Lalu saya bertemu dunia Jawa, lewat istri saya.
Di sana, kerja itu serius. Target itu penting. Hidup harus jelas arahnya. Daerah yang lebih gersang, secara alam dan sejarah, melatih manusia untuk berpikir: kalau tidak berusaha keras, tidak makan. Maka muncullah kalimat-kalimat motivasi yang rapi, sistematis, bahkan diambil dari jauh: man jadda wajada. Siapa bersungguh-sungguh, dia berhasil. Kalimatnya tegas. Nadanya mendorong. Seperti hidup yang memang harus ditarik dengan tenaga.
Istri saya pun begitu. Di awal pernikahan, ia keras. Punya banyak “ingin”. Ingin ini, ingin itu. Bukan ambisi kosong, tapi dorongan untuk bergerak. Lalu ketika masuk ke medan hidup yang lebih keras lagi, ia tidak menyerah. Ia hanya sadar posisi. “Ini kamu yang lebih bisa hadapi,” katanya suatu hari. Itu bukan mundur, itu membaca peta.
Di titik itulah kami saling belajar.
Saya belajar bahwa ketawa tidak selalu cukup. Kadang perlu struktur. Perlu niat yang disusun. Perlu dorongan dari belakang. Sementara istri saya mulai melihat bahwa tidak semua kerja harus terlihat tegang. Bahwa bercanda di live bisa berujung omzet. Bahwa emak-emak lebih nyaman beli daster dari orang yang mengajak ketawa, bukan yang mengajak seminar.
Ia sempat protes, “Kok bercanda mulu sih?”
Saya jawab sambil tertawa, “Lihat omzet.”
Dia diam. Bingung. Bukan karena kalah argumen, tapi karena realitas memang sering tidak patuh pada teori.
Saya tidak bilang satu lebih unggul dari yang lain. Justru sebaliknya. Saya melihat, dua budaya ini sedang melakukan hal yang sama dengan cara berbeda: bertahan hidup.
Orang Sunda bertahan dengan menurunkan tensi. Orang Jawa bertahan dengan menaikkan daya dorong. Yang satu memilih tertawa agar tidak pecah. Yang satu memilih mengencangkan rahang agar tidak tumbang. Keduanya masuk akal, jika dilihat dari tanah tempat mereka tumbuh.
Dan mungkin, di rumah kami, dua cara ini akhirnya bertemu di meja makan. Kadang kami serius, kadang kami tertawa. Kadang saya terlalu santai, kadang istri saya terlalu kencang. Tapi anehnya, justru di situ usaha berjalan.
Jadi ketika ada yang bertanya, “Ini beneran kerja?”
Saya ingin menjawab pelan-pelan:
Iya. Hanya caranya berbeda.
Sebagian orang bekerja sambil tegang. Sebagian bekerja sambil ketawa. Yang penting bukan ekspresinya, tapi apakah hidup tetap jalan dan orang-orang di dalamnya tidak kehilangan napas.
Dan mungkin, itu juga alasan mengapa orang Sunda terlihat awet muda. Bukan karena tidak punya masalah, tapi karena tidak semua masalah perlu ditampung di dahi.
0 komentar