Hukum Ekonomi Gagal Total di Area Parkir Festival

by - 12:00 PM


Saya pernah membaca kalimat yang terdengar sangat bijak:
Segala sesuatu, apabila banyak, menjadi murah. Kecuali akhlak.

Saya setuju.
Lalu setelah beberapa kali ke festival dan tempat wisata, saya ingin menambahkan satu pasal darurat:

kecuali akhlak dan parkir.

Karena di mana pun hukum ekonomi bekerja—beras, minyak, kaus oblong, bahkan daster—logikanya sama: beli banyak, ada kompensasi. Diskon kek. Bonus kek. Stempel “langganan” minimal. Dunia sepakat soal itu.

Tapi begitu masuk gerbang festival, hukum ekonomi langsung cuti.

Parkir yang biasanya sepuluh ribu, mendadak naik pangkat jadi tiga puluh ribu. Lima puluh ribu kalau mukanya terlihat “niat nonton”. Tidak ada karcis, tidak ada senyum, hanya tatapan kosong yang berkata: “Ini momentum, Mas.”

Padahal kalau pakai tarif normal pun, secara kumulatif mereka tetap untung. Motor ratusan. Mobil puluhan. Tapi rupanya kata cukup tidak laku di pasar parkir musiman. Yang laku hanya satu: rakus.

Ini merembet ke mana-mana.
Ke wisata alam.
Ke kuliner dadakan.
Ke akamsi yang tiba-tiba jadi ekonom dadakan.

Begitu ramai, harga makanan naik seperti dikejar cicilan. Es teh rasanya masih air PAM, tapi harganya sudah berasa air zamzam versi kredit. Porsinya mengecil, rasanya standar, tapi narasinya premium: “Lagi ramai, Pak.”

Iya, saya tahu lagi ramai.
Justru itu.

Ramai itu mestinya tanda rezeki panjang, bukan panik jangka pendek. Tapi yang terjadi seringnya kebalik: diperas dulu, dipikir belakangan. Giliran pengunjung kapok dan tidak balik, barulah muncul kalimat penuh kebingungan:
“Sekarang kok sepi ya?”

Ya karena dulu rame kamu gigit.
Sekarang sepi kamu garuk kepala.

Lucunya, akhlak itu kebalikan parkir festival.
Semakin banyak yang berakhlak, empatinya lurus, dampaknya makin baik. Tidak habis, tidak turun harga, malah naik nilainya. Tapi parkir? Semakin banyak orang, semakin liar tarifnya. Seolah-olah manusia itu sinyal untuk menaikkan harga, bukan amanah untuk dijaga.

Saya jadi berpikir, mungkin benar kata orang:
tidak semua yang ramai itu berkah, kalau niatnya cuma ingin cepat kenyang.

Pada akhirnya, orang tidak trauma pada tempatnya.
Orang trauma pada perlakuannya.

Dan saya?
Kalau ke festival lagi, mungkin tetap datang.
Tapi parkirnya saya titip doa saja:
Semoga hari ini ketemu penjaga lahan yang belum lulus ujian serakah.

Kalau tidak ketemu, ya sudah.
Saya pulang sambil mengangguk pelan:

Hukum ekonomi berlaku di mana-mana—
kecuali di parkir festival dan warung yang kebanyakan niat.

You May Also Like

0 komentar