Mengendapkan Puasa Sampai Baju Baru Bicara

by - 12:00 AM

 


(Seri Keempat)

Puasa itu sebenarnya latihan diam.
Diam dari makan.
Diam dari reaksi.
Diam dari keinginan membuktikan apa pun.

Tapi manusia—terutama yang sudah dewasa—
tidak betah diam terlalu lama.

Maka ketika Lebaran datang,
yang pertama bicara bukan mulut,
tapi baju.

Baju baru selalu jujur.
Ia tidak pernah mengklaim takwa,
tapi selalu berhasil menyampaikan pesan.

“Aku baik-baik saja.”
“Aku naik level.”
“Aku masih sanggup beli ini.”

Tanpa satu kalimat pun,
baju sudah menyampaikan laporan hidup.

Padahal puasa barusan mengajarkan hal sebaliknya:
bahwa yang paling penting tidak perlu terlihat.

Sebulan penuh kita diajak mengendapkan.
Menurunkan volume ego.
Mengurangi hasrat tampil unggul.
Menyadari bahwa lapar itu fana,
dan keinginan untuk dilihat itu ternyata lebih lapar.

Lalu Lebaran datang,
dan baju baru bicara lebih cepat daripada doa.

Tidak salah beli baju baru.
Yang lucu adalah beban makna yang kita titipkan padanya.

Baju berubah fungsi.
Dari penutup tubuh
menjadi penutup kegelisahan.

“Yang penting kelihatan rapi.”
Padahal yang kusut sering kali batin.

“Yang penting matching.”
Padahal hidup sendiri-sendiri juga tak apa.

Puasa seharusnya selesai di hati.
Tapi seringkali ia berhenti di lemari.

Kita lupa bahwa mengendapkan puasa
bukan soal berapa hari menahan lapar,
tapi seberapa lama kita mampu
tidak berlomba setelah kenyang.

Baju baru boleh bicara.
Silakan.
Ia memang tidak bisa diam.

Yang penting,
kita tidak ikut teriak.

Karena orang yang puasanya benar-benar mengendap
biasanya tidak sibuk menjelaskan apa pun.

Ia datang,
bersalaman,
tersenyum,
dan pulang
tanpa perlu memastikan
apakah bajunya sudah didengar.

You May Also Like

0 komentar