Anak Tidak Susah Diatur, Ia Kebanyakan Diatur

by - 12:00 PM

Ada fase di hidup orang tua ketika kita merasa: “Ini anak kok susah banget diatur, ya?”

Bangun salah.
Makan salah.
Main salah.
Duduk salah.
Lari salah.
Diam… salah juga, karena “kok bengong?”

Akhirnya muncul kesimpulan cepat: “Anaknya keras.” “Wataknya susah.” “Bandel dari sananya.”

Padahal setelah dipikir-pikir, mungkin bukan anaknya yang susah diatur, tapi jadwal hidupnya yang lebih ketat dari ASN.

Bangun jam sekian.
Mandi sekarang.
Pakai baju itu.
Jangan ini.
Harus begitu.
Nanti.
Sekarang.
Cepat.
Jangan lama-lama.

Anak kecil hidup dalam dunia di mana hampir semua keputusan sudah diambilkan orang dewasa.

Ia bahkan tidak bebas menentukan: hari ini mau pakai kaus bergambar dinosaurus atau kaus dinosaurus yang satunya lagi.

Dan kita heran kenapa satu keputusan kecil saja bisa meledak besar.

“Pakai sepatu!” “Nggak mau!”

Drama dimulai.

Bukan karena sepatu. Tapi karena itu satu-satunya wilayah kedaulatan yang tersisa.

Anak bukan sedang melawan aturan. Ia sedang mempertahankan rasa punya kendali.

Bayangkan hidup kita diatur dari bangun sampai tidur, tanpa boleh protes, tanpa penjelasan, tanpa hak negosiasi.

Lalu suatu hari kita berkata: “Aku mau minum kopi sekarang.”

Dan ada suara: “Tidak. Kopi jam 10. Sekarang teh.”

Kita mungkin tidak guling-guling di lantai, tapi dalam batin: emosi naik.

Anak belum punya kemewahan itu. Ia protes pakai tubuh.

Menariknya, semakin banyak diatur, biasanya semakin keras perlawanan.

Bukan karena anak jahat, tapi karena sistemnya terlalu penuh kontrol.

Anak bukan robot. Dan orang tua bukan remote.

Yang sering kita sebut “susah diatur” sebenarnya anak yang:

  • jarang diberi pilihan
  • jarang diajak bicara
  • jarang didengar alasannya
  • sering langsung diperintah

Lucunya, kita ingin anak patuh, tapi lupa mengajari cara berdiskusi.

Kita ingin anak nurut, tapi tidak memberi ruang latihan mengambil keputusan.

Padahal patuh tanpa dilibatkan itu bukan kedewasaan, itu mati rasa sementara.

Anak yang selalu diatur bisa jadi:

  • patuh tapi takut salah
  • diam tapi penuh tekanan
  • menurut tapi kehilangan suara

Atau sebaliknya: melawan di mana-mana karena itu satu-satunya cara merasa ada.

Kadang solusi bukan menambah aturan, tapi mengurangi kebisingan perintah.

Bukan melepas semua batas, tapi memberi ruang kecil: “Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?” “Kamu pilih baju yang ini atau itu?” “Kamu mau bereskan mainan sendiri atau ditemani?”

Pilihan kecil, dampak besar.

Anak yang diberi rasa kendali lebih mudah bekerja sama.

Karena ia tidak sedang berperang dengan dunia orang dewasa.

Jadi mungkin, anak tidak susah diatur.

Ia hanya lelah hidup di dunia yang terlalu sibuk mengaturnya.

Dan kita, sedang belajar satu hal penting: kadang yang perlu dikendurkan bukan anaknya, tapi cara kita memegang kendali.



You May Also Like

0 komentar