Privasi Itu Konsep Kota, di Kampung Semua Tahu

by - 12:00 AM

Di kota, saya bisa hidup dua puluh tahun di satu tempat,

tanpa tahu nama tetangga sebelah.
Paling banter tahu pintunya warna apa.
Itu pun kalau lift tidak rusak.

Di kampung, baru turun dari motor,
belum sempat buka helm,
sudah ada yang nyapa:

“Lho, ini anaknya si anu ya?”
Padahal saya sendiri belum yakin.

Orang kota menyebut itu kepo.
Orang kampung menyebut itu perhatian.

Di kota, privasi adalah hak.
Di kampung, privasi adalah ilusi kolektif.

Jam berapa kamu bangun, orang tahu.
Kamu pulang sama siapa, orang tahu.
Kamu batuk dua kali, besok ada yang nanya:
“Katanya kamu masuk angin?”

Yang bikin kaget bukan karena dia tahu.
Tapi karena semua tahu, tanpa grup WhatsApp.

Orang kota mulai curiga.
“Ini CCTV kampung di mana?”
Jawabannya sederhana:
di mata dan telinga manusia.

Lintas desa pun masih kenal.
Bukan karena sering ketemu,
tapi karena silsilah dan gosip bekerja sama dengan sangat efisien.

“Oh itu cucunya si Mbah anu,
yang dulu kawin sama orang seberang sungai.”

Informasi ini tidak tersimpan di cloud,
tapi di ingatan kolektif yang tidak pernah logout.

Di kota, kita menjaga jarak demi sopan.
Di kampung, jarak dijaga kalau sudah benar-benar tidak akrab.

Makanya pertanyaan di kampung sering terdengar brutal bagi orang kota:

“Kerjanya apa sekarang?”
“Gajinya berapa?”
“Kok belum nikah?”
“Kok sudah nikah tapi belum punya anak?”

Bagi orang kota, ini interogasi.
Bagi orang kampung, ini basa-basi.

Karena di kampung, hidup itu urusan bersama.
Kalau satu orang susah,
yang lain merasa perlu tahu,
biar bisa ikut mikir—atau minimal ikut ngomong.

Privasi bukan dihilangkan,
tapi belum ditemukan urgensinya.

Dan lucunya,
orang kota yang awalnya risih,
lama-lama justru ketagihan.

Karena saat kamu sakit, orang datang.
Saat kamu susah, orang tahu.
Saat kamu senang, orang ikut senang—
meski sambil membandingkan.

Di kampung, kamu tidak bisa menghilang.
Tapi kamu juga jarang benar-benar sendirian.

Dan mungkin,
di situlah perbedaan paling jujur antara kota dan kampung:

Di kota, kamu bebas.
Di kampung, kamu dianggap ada.


You May Also Like

0 komentar