Keyboard Warrior, Kucing, dan Stick Mainan Bernama AnuNews

by - 6:00 PM


Saya sampai di fase ini sambil tertawa. Bukan tawa suci ala pertapa, tapi tawa agak nakal—tawa orang yang akhirnya sadar: oh, ternyata hidup ini cuma soal fase-fase yang lewat, bukan medan perang permanen.

Ada fase ketika saya ingin punya kekuatan super bernama NAMPOL ONLINE. Setiap lihat keyboard warrior ribut di kolom komentar, rasanya refleks tangan gatal. Mereka ngetik seperti orang buang kotoran di fasilitas umum: keras, sembarangan, lalu pergi tanpa cebok. Tinggal bau. Tinggal repot orang lain. Saya emosi, saya panas, saya ikut naik tensi. Fase klasik.

Lalu ada fase berikutnya. Fase “eh bentar…”.
Saya mulai melihat polanya. Kok ributnya selalu di situ-situ aja? Kok temanya itu-itu lagi? Kok akun pemicunya namanya aneh-aneh, bukan manusia, lebih mirip papan reklame berjalan? PesbukNews, GeloraIni, KasurItu. Bukan media, bukan pula makhluk hidup utuh. Lebih tepat disebut: tangan tak terlihat yang megang stick mainan kucing.

Dan tiba-tiba gambarnya jelas.
Para keyboard warrior itu… kucing.
Saya? Pernah jadi salah satunya.
Mereka meloncat, mencakar, mendesis, merasa heroik—padahal yang dikejar cuma ujung stick plastik yang digerak-gerakkan. Begitu stick-nya berhenti, mereka bengong. Capek sendiri. Besok ribut lagi.

Di titik itu, hasrat nampol online saya lumer. Bukan karena saya lebih suci, tapi karena logikanya kebuka. Ngapain saya marah sama kucing yang lagi dikejar mainan? Ngapain saya ikut lompat-lompat, padahal yang tertawa paling akhir bukan kita, tapi yang megang stick?

Lucunya, di dunia nyata, skenario itu hampir selalu sama.
Di kolom komentar: singa lapar.
Di DM atau ketemu langsung: cengengesan.
“Share location, ayo gelut!”
Statistiknya konsisten: 0,00001% kejadian, sisanya malu pasca-emosi.

Dan di situlah saya ketawa.
Bukan ketawa meremehkan, tapi ketawa orang yang akhirnya bisa bilang ke diri sendiri:
“Oh… ini fase.”

Fase marah.
Fase sok jago.
Fase ingin jadi algojo moral.
Dan sekarang, fase baru: menonton dengan jarak aman.

Saya masih manusia. Kadang tetap gemas. Kadang tetap pengen nyentil. Tapi bedanya, sekarang saya tahu: tidak semua keributan perlu direspons, tidak semua kucing perlu dikejar, dan tidak semua stick mainan pantas dianggap ancaman negara.

Jadi kalau hari ini saya tertawa melihat keyboard warrior ribut, itu bukan karena saya kebal.
Itu karena saya akhirnya sadar:
yang ribut itu fana,
stick-nya oportunis,
dan saya—cukup duduk, ngopi, sambil mikir:

“Wah, dulu gue juga pernah lari sekencang itu ya.”

You May Also Like

0 komentar