Dajjal, AI, dan Saya yang Pernah Mau Nampol Online
Gue belakangan sadar satu hal:
kata “Dajjal” itu jauh lebih efektif daripada kata “AI manipulatif”.
Coba bandingin.
“Awas fitnah AI.”
Orang jawab: oh ya ya… nanti dicek.
Tapi begitu bilang:
“Awas Dajjal.”
Langsung: ISTIGHFAR! MATIIN HP!
Padahal isinya sama.
Sama-sama fitnah.
Sama-sama bikin manusia goblok berjamaah.
Dulu orang tua kita punya depresan instan:
“Awas hantu.”
Tujuannya apa? Biar anak jangan keluar malam, jangan masuk sumur, jangan ke kebun sendirian.
Sekarang kita hidup di zaman modern.
Sumur sudah ditutup.
Kebun jadi cluster.
Hantunya upgrade…
jadi video AI resolusi 4K.
Dan lucunya, manusia modern ini merasa lebih pintar.
“Ah gue mah rasional.”
Padahal lihat video setengah menit, tanpa konteks, langsung emosi.
Langsung share.
Langsung maki-maki.
Langsung pengin nampol orang yang bahkan belum tentu nyata.
Gue tahu, karena…
gue pernah di situ.
Pernah ada fase pengin nampol online.
Bukan debat.
Bukan diskusi.
Nampol.
Secara spiritual.
Lewat keyboard.
Rasanya heroik.
“Gue membela kebenaran!”
Padahal kalau dipikir sekarang…
anjir, gue cuma emosian dikasih Wi-Fi.
Makanya pas kepikiran cocoklogy ini, gue ketawa sendiri:
Dajjal itu katanya bermata satu.
Melihat dari satu sisi.
Nah sekarang manusia?
Punya dua mata…
tapi milih pakai satu.
Yang satu buat lihat video.
Yang satunya ditutup pakai emosi.
AI itu netral.
Kayak pisau dapur.
Bisa buat motong bawang,
bisa buat nusuk tetangga kalau lu bego.
Masalahnya bukan pisaunya.
Masalahnya orang yang sambil nangis, sambil marah, sambil sok tercerahkan, megang pisau.
Dan ada yang lebih lucu lagi.
Dajjal itu katanya mengaku Tuhan.
Sekarang manusia gak sejauh itu.
Cukup mengaku:
“Gue paling waras di kolom komentar.”
Padahal kalau buka akun lama lima tahun ke belakang…
langsung pengin hapus.
Atau minimal ganti nama jadi:
“akun backup 3”.
Jujur aja.
Kalau semua komentar lama kita dipajang di layar bioskop,
separuh umat manusia bakal pura-pura batuk,
separuh lagi pura-pura mati lampu.
Makanya gue paham sekarang,
kenapa mitos itu penting.
Kenapa orang dulu bilang:
“Awas Dajjal.”
Bukan karena mereka bodoh.
Tapi karena mereka tahu…
manusia susah dikasih peringatan pakai bahasa halus.
“Awas fitnah” itu terlalu sopan.
“Awas Dajjal” itu langsung bikin bulu kuduk mikir.
Dan mungkin…
itu yang kita butuhkan hari ini.
Bukan teknologi lebih pintar.
Tapi ketakutan yang tepat sasaran.
Bukan takut sama AI.
Tapi takut sama diri sendiri
saat lagi emosional,
lagi capek,
lagi pengin merasa benar.
Karena jujur aja…
Dajjal paling berbahaya itu bukan yang datang dari dimensi lain.
Tapi yang muncul saat kita mikir:
“Ah, gue share aja dulu. Bener atau salah belakangan.”
Nah itu…
itu Dajjal versi Wi-Fi.
Dan gue?
Sekarang cukup ketawa.
Kalau mulai pengin nampol online lagi,
gue ingat satu hal:
“Tenang…
lu bukan pahlawan.
lu cuma manusia lelah
yang hampir jadi kucing
ngejar stick mainan.”
🤣
0 komentar