Anak Tidak Melawan, Ia Sedang Melindungi Diri

by - 12:00 AM

Saya dulu percaya satu mitos parenting klasik:

kalau anak melawan, berarti kurang ajar.

Pendek. Praktis. Tidak perlu mikir.

Sampai suatu hari saya sadar,
kata melawan itu terlalu dewasa
untuk dilekatkan ke makhluk yang tinggi badannya
bahkan belum sejajar kulkas.

Anak tidak punya agenda politik.
Tidak sedang membentuk oposisi.
Tidak bikin fraksi “anti-ortu”.

Kalau anak terlihat melawan, biasanya ia sedang melakukan satu hal sederhana: bertahan hidup secara emosional.

Misalnya begini.

Anak disuruh berhenti main. Dia bilang “nggak mau”. Nada naik. Badan kaku. Muka mulai merah.

Versi dewasa: “Kurang ajar. Melawan.”

Versi jujur: “Dia belum siap kehilangan kontrol.”

Anak kecil itu hidup di dunia di mana hampir semua keputusan diambilkan orang lain.

Jam makan ditentukan. Jam tidur diatur. Baju dipilihkan. Tempat duduk ditentukan. Bahkan mau pipis pun kadang disuruh nunggu.

Satu-satunya hal yang masih ia punya? kehendak.

Dan ketika kehendak itu terancam, yang keluar bukan pidato diplomatik, tapi… perlawanan.

Bukan karena mau menang. Tapi karena mau tetap utuh.

Anak tidak berkata: “Ayah, batas otonomi saya sedang terancam.”

Dia berkata: “NGGAK MAU.”

Itu saja kosa katanya.

Lucunya, kalau orang dewasa melakukan hal yang sama, kita sebut itu assertive.

“Dia tahu batas.” “Dia bisa bilang tidak.” “Wah, mentalnya kuat.”

Ke anak? “Melawan.”

Padahal mekanismenya sama. Cuma versinya belum di-upgrade.

Anak melawan itu sering terjadi saat ia merasa: – tidak didengar
– tidak dipahami
– dipaksa terlalu cepat
– atau emosinya diremehkan

Itu bukan pemberontakan. Itu refleks.

Kayak tangan menarik diri saat hampir kena api.

Dan kita sering menambah apinya dengan kalimat sakti: “Pokoknya nurut!”

Kalimat itu memang ampuh. Anak bisa diam. Bisa patuh. Bisa tunduk.

Tapi jangan salah, yang diam itu sering bukan tenang, melainkan menyerah.

Dan anak yang terlalu cepat menyerah, kelak jadi dewasa yang: takut bilang tidak, takut beda pendapat, takut konflik, takut merasa.

Saya mulai melihat adegan “melawan” ini seperti alarm.

Bukan alarm bahaya, tapi alarm kebutuhan.

“Oh, berarti ada yang perlu dijelaskan.” “Oh, berarti dia butuh waktu.” “Oh, berarti aku datang terlalu keras.”

Kadang solusinya bukan menurunkan standar, tapi menurunkan nada.

Bukan mundur, tapi memperlambat.

Lucunya, semakin anak merasa aman, semakin jarang ia perlu melawan.

Karena orang yang aman tidak sibuk bertahan.

Anak yang didengar tidak perlu teriak.

Anak yang dipahami tidak perlu membentengi diri.

Melawan itu bukan tanda anak rusak. Seringkali justru tanda instingnya masih hidup.

Yang berbahaya bukan anak yang melawan, tapi anak yang sudah tidak merasa boleh melawan apa pun.

Karena di titik itu, ia bukan belajar dewasa, tapi belajar menghilang.

Jadi lain kali kalau anak terlihat melawan, mungkin kita bisa senyum dikit, lalu bertanya dalam hati:

“Ini melawan…
atau ini anak kecil yang sedang menjaga dirinya sendiri?”

Biasanya, jawabannya jauh lebih manusiawi dari yang kita kira.



You May Also Like

0 komentar