Segalanya Bisa Dibeli, Kecuali Waktu Pulang
Saya mantan anak kampung.
Dan setelah semua culture shock ini—jastip, syahwat paket hemat, kelas dadakan, ibadah berjoki—akhirnya saya paham satu hal yang tidak diajarkan di kota maupun di kampung.
Di kota, hampir semuanya bisa dibeli.
Waktu dihitung per jam.
Emosi dikemas jadi konten.
Relasi diberi label: profesional, personal, kolaborasi, atau “nanti kita follow up.”
Bahkan lelah pun punya harga.
Bahkan kesedihan bisa dimonetisasi.
Bahkan keikhlasan bisa dijadwalkan.
Kota tidak jahat.
Ia hanya efisien.
Dan efisiensi, seperti pisau tajam, tidak pernah bertanya apakah yang dipotong itu perlu atau tidak.
Di kampung, saya tidak kaya.
Tapi saya tahu suara ayam tetangga.
Tahu siapa yang sedang susah tanpa diumumkan.
Tahu kalau orang datang malam-malam bukan untuk konten, tapi karena benar-benar butuh ditemani.
Di kota, semua bergerak cepat.
Cepat kenal.
Cepat dekat.
Cepat bosan.
Cepat pindah.
Di kampung, semua lambat.
Terlalu lambat untuk viral.
Tapi cukup lambat untuk saling ingat.
Akhirnya saya mengerti:
bukan kota yang salah.
bukan kampung yang suci.
Ini bukan perang budaya.
Ini cuma perbedaan cara manusia bertahan hidup.
Di kota, semua punya harga.
Di kampung, banyak hal masih punya rasa.
Dan rasa…
tidak bisa di-invoice.
Tidak bisa di-jastip-kan.
Tidak bisa diwakilkan.
Yang paling mahal ternyata bukan uang.
Bukan status.
Bukan engagement.
Yang paling mahal adalah waktu pulang.
Pulang ke diri sendiri.
Pulang ke kesadaran.
Pulang ke titik di mana hidup tidak perlu selalu produktif untuk bermakna.
Mungkin itulah sebabnya,
sekeras apa pun kota membentuk saya,
di kepala saya masih ada suara lama yang pelan tapi bandel:
“Kalau capek, pulang aja dulu.”
Dan lucunya,
di dunia yang segalanya bisa dibeli,
tidak ada satu pun yang bisa menjual
rasa pulang itu sendiri.
😌
Tamat.
Catatan kaget selesai.
Bukan untuk menyalahkan siapa-siapa.
Hanya untuk mengingatkan diri sendiri:
Kalau suatu hari saya terlalu sibuk hidup di kota,
semoga saya tidak lupa
cara pulang—
meski hanya sebentar,
meski hanya lewat ingatan.
0 komentar