Ibadah yang Mahal, Tuhan Tetap Gratis

by - 12:00 PM

 

Saya tidak sedang menertawakan ibadah. Yang saya tertawakan adalah cara manusia menjual ketenangan, lengkap dengan brosur, grade layanan, dan janji-janji yang terdengar seperti iklan apartemen.

Suatu hari saya ingin umroh. Kalimat itu sekarang terdengar tenang di kepala saya. Tidak terburu-buru, tidak meletup-letup, tidak juga penuh euforia religius. Ia datang pelan, dipantik oleh anak saya yang dengan polos bilang ingin melihat Ka’bah. Aneh memang, kadang niat yang lama membeku justru cair karena suara paling jujur di rumah: suara anak.

Dulu, niat itu sempat saya simpan jauh. Bukan karena tidak percaya Tuhan, tapi karena terlalu sering melihat manusia mengelilingi Tuhan dengan praktik yang bikin batin mual. Dari dana haji yang dikorupsi, jamaah umroh yang terlantar, sampai travel yang lebih rajin promosi daripada bertanggung jawab. Saya capek membayangkan ibadah yang seharusnya khusyuk berubah jadi latihan kesabaran tingkat nasional.

Sekarang niat itu muncul lagi. Dengan syarat yang sederhana tapi sering dianggap kurang tawakal: saya ingin ibadah dengan tenang.

Masalahnya, dunia tidak pernah kehabisan cara mengemas ketenangan jadi produk. Maka lahirlah haji super premium. Haji furoda. Waktu tunggu singkat, biaya melonjak lima kali lipat dari ambang batas pemerintah. Katanya eksklusif. Katanya nyaman. Katanya aman. Dan tentu saja—katanya ini solusi.

Lucunya, yang beli malah banyak. Rupanya ketenangan memang laku keras kalau dikasih label “premium”. Saya jadi membayangkan masa depan ibadah seperti katalog hotel: furoda grade A, B, C. Bedanya mungkin cuma di jarak tenda, jenis kasur, atau seberapa cepat dibangunkan untuk shalat subuh.

Di titik itu saya sadar, bisnis akan selalu menemukan celah. Bahkan di tempat paling suci sekalipun. Bukan karena Tuhan butuh uang, tapi karena manusia selalu butuh dalih.

Saya tidak menyalahkan orang yang mampu dan memilih jalur cepat. Silakan. Ini bukan soal iri atau sok suci. Ini soal kesadaran bahwa mahal tidak selalu berarti bersih, dan murah tidak selalu berarti hina. Yang menentukan bukan harga paket, tapi niat dan sistem yang mengelolanya.

Makanya saya selektif. Bukan cerewet. Bukan sinis. Saya hanya tidak ingin ibadah saya dibajak oleh kekacauan orang lain. Uang yang saya kumpulkan bukan angka kosong; itu waktu hidup saya. Saya ingin menyerahkannya pada layanan yang waras, bukan pada janji manis yang ditutup ayat.

Mungkin bagi sebagian orang saya terdengar berlebihan. “Ini kan ibadah,” kata mereka. Justru karena ini ibadah, saya tidak mau menaruhnya sembarangan.

Suatu hari saya akan umroh. Bukan untuk membuktikan apa-apa. Bukan untuk status. Bukan juga untuk cerita heroik. Saya ingin datang sebagai manusia biasa yang batinnya sudah cukup rapi untuk bertamu. Dan kalau jalannya harus pelan, selektif, bahkan sedikit curiga—saya terima.

Karena pada akhirnya, Tuhan tidak pernah mematok harga.
Yang sering mahal itu hanyalah cara manusia mendekat kepada-Nya.

You May Also Like

0 komentar