Lele Terbang, Drakula Sariawan, dan Daster yang Menyembuhkan Batin

by - 6:00 PM

Siang-siang jualan daster ternyata lebih mirip riset batin ketimbang dagang kain. Saya berdiri di depan kamera, tapi yang benar-benar lewat itu bukan cuma traffic—melainkan potongan-potongan kepribadian manusia, disamarkan lewat nama akun.

Ada akun bernama lele terbang, drakula sariawan, atau kombinasi kata yang kalau dibaca rasanya pengen ketawa sekaligus curiga: ini orang habis begadang apa habis patah hati? Di balik nama-nama itu biasanya ada manusia yang bingung tapi kreatif. Alter ego bekerja. Komentarnya absurd, kadang nyeleneh, kadang ngeselin, tapi justru di situ pintu masuknya. Saya ajak bercanda, saya pelintir sedikit, eh tahu-tahu jadi transaksi. Hidup memang sering begitu: yang bingung asal diajak ketawa, bisa jalan bareng.

Lalu ada akun yang pakai nama asli. Nama depan, nama belakang, kadang lengkap sampai gelar—seolah berkata, “ini saya, silakan.” Polanya beda. Komentarnya relatif lurus, manusia waras, meski kadang masih nyempil absurd kecil. Mungkin bukan karena mereka paling sehat, tapi karena mereka sudah cukup berdamai untuk tidak perlu sembunyi di balik topeng nama. Atau jangan-jangan mereka belum tahu kalau nama bisa diganti jadi kucing galau 98.

Saya sendiri memilih posisi yang sederhana: saya jadi titik berangkat. Ke yang usil, saya ajak tertawa. Ke yang lurus, saya lurus. Ke yang noise dan toxic, saya beri batas. Sekali, dua kali. Kalau masih ngeyel, ya saya blokir. Bukan karena saya sok suci, tapi karena live bukan tempat terapi massal tanpa izin. Ada ruang, ada aturan main.

Lama-lama saya melihat ini bukan soal jualan daster. Ini soal bagaimana orang membangun realitas kecilnya sendiri. Ada yang masih pakai topeng karena belum aman jadi diri sendiri. Ada yang sudah lepas topeng dan santai. Ada juga yang pakai topeng hanya untuk jadi berisik—yang ini biasanya tidak betah lama-lama.

Dan di tengah semua itu, saya belajar satu hal: dunia maya tidak perlu selalu ditertibkan, cukup dibacakan ritmenya. Yang bisa diajak main, main. Yang bisa diajak lurus, lurus. Yang ingin merusak, pamit.

Akhirnya, live daster ini terasa seperti cermin murah meriah: kadang retak, kadang lucu, tapi cukup jujur untuk menunjukkan—di balik nama akun apa pun, manusia sedang mencari tempat yang aman untuk hadir. Dan kalau bisa sambil beli daster, ya itu bonus yang sah secara batin dan SOP.


You May Also Like

0 komentar