Buka Kelas, Padahal Dulu Cuma Coba-coba
Saya ini mantan anak kampung.
Di kampung, ilmu itu menetes pelan.
Diturunkan sambil ngopi.
Sambil ngerokok.
Sambil nunggu hujan reda.
Tidak ada sertifikat.
Tidak ada modul PDF.
Tidak ada zoom link.
Kalau ada yang bisa, ya langsung diajarin.
Gratis.
Paling bayar rokok sebatang.
Lalu saya masuk kota.
Dan kembali kaget.
Di kota, ilmu itu di-launching.
Ada teaser.
Ada poster.
Ada early bird price.
Saya lihat brosur-brosur ajaib:
Kelas jadi diri sendiri.
Kelas healing batin.
Kelas mengatur napas (padahal napas dari lahir juga bisa).
Kelas move on.
Yang bikin saya bengong:
pengajar kelas move on…
masih update story mantan.
Anak kampung mikir keras:
“Lah ini ngajarin apa… atau sedang curhat rame-rame?”
Di kampung, orang galau diajak ke sawah.
Disuruh nyangkul.
Capek → lupa sedih.
Di kota, galau diajak duduk melingkar.
Disuruh menarik napas.
Sedih → diidentifikasi → difoto → diposting.
Saya mulai paham polanya.
Di kota, pengalaman = produk.
Pernah gagal?
Buka kelas bangkit dari kegagalan.
Pernah bingung?
Buka kelas finding your purpose.
Pernah salah jalan?
Buka kelas redefining your path.
Tidak harus sembuh dulu.
Yang penting sudah coba-coba.
Anak kampung bertanya polos:
“Kalau semua buka kelas… muridnya siapa?”
Kota menjawab dengan tenang, tanpa rasa bersalah:
“Kita saling belajar, saling bayar.”
Hari ini kamu murid.
Besok kamu mentor.
Lusa kamu bikin kelas sendiri:
“Pengalaman Menjadi Murid Kelas Healing.”
Semuanya berputar.
Semua saling validasi.
Semua dapat invoice.
Di kampung, ilmu diuji waktu.
Di kota, ilmu diuji market.
Bukan salah atau benar.
Cuma beda habitat.
Saya tidak anti kelas.
Saya cuma kaget:
ternyata di kota,
bahkan kebingungan pun bisa naik harga.
0 komentar