Katanya Harus Mikir Masa Depan, Padahal Saya Lagi Ketawa
Saya ini tipe orang yang mikir, tapi bukan mikir yang alisnya mengkerut terus. Saya mikir sambil ketawa. Bukan karena hidup selalu lucu, tapi karena kalau sudah ribet, kenapa harus ditambah tegang.
Itu sebabnya, sejak awal, saya selalu percaya satu hal sederhana: menjalani hidup itu idealnya tenang, dan kalau bisa, lucu. Bukan lucu yang dibuat-buat, tapi lucu yang muncul karena kita sadar—tidak semua hal perlu ditanggapi dengan dada mengeras.
Sampai suatu hari, istri saya ngotot ingin mulai usaha.
Barangnya gonta-ganti. Hari ini ini, besok itu. Saya ikut nimbrung: bantu tenaga, bantu mikir, carikan modal, angkat-angkat barang, ikut mumet kalau perlu. Tapi jujur saja, di satu titik saya heran. Bukan skeptis, cuma penasaran.
Saya tanya pelan-pelan, tanpa nada menguji:
“Tujuan akhir kamu usaha ini apa?”
Ia jawab singkat, mantap:
“Biar tenang di masa depan.”
Saya langsung ketawa. Bukan mengejek. Ketawa refleks.
“Sekarang kurang tenang apa?” kata saya.
“Hidup enak. Makan gampang. Kalau pusing sama kota, pulang kampung. Cabe ada, beras ada, tetangga ada. Kurang apa?”
Di kepala saya, tenang itu bukan hasil tabungan dulu. Tenang itu cara memandang hidup. Makanya saya bisa ketawa dulu, mikir belakangan.
Tapi istri saya tidak ikut ketawa. Ia menolak argumen saya. Dan lucunya, alasan penolakannya justru membuat saya berhenti ketawa.
“Karena aku mau anak kita sekolah di tempat yang berkualitas.”
Nah. Di situ saya diam.
Karena ternyata, meski jalur mikir kami beda, tujuan akhirnya sama. Ia mengejar ketenangan lewat kesiapan sistem. Saya mengejar ketenangan lewat penerimaan hidup. Dan titik temu kami ada di anak.
Bukan soal ambisi, bukan soal gaya hidup. Tapi soal tanggung jawab yang sunyi: memastikan anak tidak harus berjuang di medan yang terlalu berat hanya karena orang tuanya malas berpikir jauh.
Di titik itu, saya berhenti bercanda. Saya bilang satu kalimat yang jarang saya ucapkan dengan serius penuh:
“Let’s go.”
Bukan karena saya tiba-tiba berubah jadi orang ambisius. Tapi karena saya sadar: mikir hidup dengan tenang tidak berarti menolak persiapan. Dan mikir masa depan tidak harus selalu dengan wajah tegang.
Saya tetap percaya, hidup ini tidak perlu dijalani dengan dahi berkerut terus. Kita bisa serius tanpa galak. Bisa bertanggung jawab tanpa kehilangan humor. Bisa kerja tanpa membenci hidup.
Dan mungkin itu bedanya.
Ada orang mikir supaya hidupnya naik level.
Ada orang mikir supaya hidupnya tidak runtuh.
Saya? Saya mikir supaya hidup ini bisa dijalani tanpa perlu kehilangan senyum.
Kalau bisa tenang, ya tenang.
Kalau bisa lucu, kenapa tidak.
Karena pada akhirnya, tujuan kami sama:
bukan jadi hebat di mata orang,
tapi pulang ke rumah dengan napas yang masih utuh.
0 komentar