Anak Tidak Bandel, Ia Sedang Bingung
Saya makin ke sini makin ragu pada kata bandel.
Terlalu sakti kata itu.
Sekali ditempelkan ke anak,
semua pertanyaan berhenti.
Bandel → ya sudah.
Bandel → pantas dimarahi.
Bandel → tinggal dinaikkan volume suara.
Padahal kalau mau jujur, anak bandel itu jarang sekali ada.
Yang ada: anak bingung, anak capek, anak kepenuhan emosi, anak salah baca situasi, anak belum punya kosa kata untuk menjelaskan apa yang ia rasakan.
Tapi karena ia kecil, kita sederhanakan: bandel.
Saya sering melihat anak disuruh sesuatu, lalu dia melakukan hal yang… lain.
Bukan karena menantang. Bukan karena mau cari perkara.
Tapi karena di kepalanya: “Yang dimaksud ayah/ibu itu yang mana ya?”
Anak itu bukan robot. Instruksi kita sering multitafsir, tapi kita lupa anak belum punya kamus dewasa.
“Rapikan kamar.”
Di kepala kita: lipat selimut, susun mainan, masukkan baju, jangan ada yang tercecer.
Di kepala anak: angkat satu mainan, taruh di kasur, selesai.
Lalu kita datang, melihat kekacauan, dan berkata: “Kok bandel sih?!”
Padahal dia sedang merasa: “Lho… tadi aku sudah.”
Di titik itu, yang rusak bukan kamarnya. Yang retak itu rasa percaya dirinya.
Anak bingung itu kelihatan seperti bandel karena bingung tidak punya ekspresi elegan.
Orang dewasa bingung bisa: diam, menghela napas, scroll HP, ngopi.
Anak bingung? Tubuhnya yang bicara.
Lari, teriak, menolak, melempar, atau pura-pura tidak dengar.
Dan kita salah menamai sinyal itu.
Saya pernah nanya ke anak, dengan nada netral: “Kamu tadi kenapa begitu?”
Jawabannya bikin saya malu sendiri: “Aku nggak tahu harus ngapain.”
Nah. Selesai sudah teori anak bandel.
Bingung itu bukan dosa. Bingung itu fase.
Masalahnya, kita sering memperlakukan bingung sebagai pembangkangan.
Anak belum bisa memilah: ini emosi, ini instruksi, ini ekspektasi, ini nada suara.
Semuanya datang bersamaan, seperti notifikasi HP yang bunyinya tumpang tindih.
Dan kita heran: “Kenapa dia malah ngelawan?”
Padahal dia sedang overload.
Lucunya, kalau orang dewasa overload, kita maklumi.
“Ah dia lagi capek.” “Dia lagi banyak pikiran.” “Jangan diganggu dulu.”
Ke anak? “Dasar bandel.”
Saya mulai ganti kacamata. Setiap kali ingin bilang bandel, saya tanya ke diri sendiri: dia lagi bingung di bagian mana?
Kadang jawabannya sederhana: bingung karena lapar, bingung karena mengantuk, bingung karena ekspektasi kita berubah tanpa pemberitahuan.
Anak itu belajar dunia tanpa manual book.
Ia menebak-nebak aturan, dan kadang salah.
Bukan untuk menantang, tapi untuk memahami.
Dan lucunya lagi, semakin sering anak disebut bandel, semakin ia belajar satu hal: “Oh, berarti aku memang anak bandel.”
Label itu lengket. Lebih lengket dari mainan kena permen.
Padahal yang ia butuhkan bukan label, tapi peta.
Petunjuk kecil. Kalimat jelas. Nada aman.
Bukan bentakan, bukan ceramah, bukan ancaman neraka versi rumah tangga.
Cukup: “Oh, maksudnya gini.”
Anak tidak bandel. Ia sedang bingung.
Dan bingung itu bukan musuh. Bingung itu tanda otaknya sedang bekerja.
Kalau kita sabar sedikit, kita bukan cuma mendidik anak.
Kita sedang mengajarinya bahwa dunia ini boleh dipahami pelan-pelan, tanpa takut.
Dan itu, menurut saya, jauh lebih berguna daripada anak yang cepat patuh tapi pelan-pelan hilang suaranya.
0 komentar