Dwilogi: Tentang Wajah, Daster, dan Orang Kaya yang Terlihat Kaya Walau Pakai Daster

by - 12:00 AM


**Bagian I

Wajah Manusia dan Keyakinan Bahwa Hidup Tidak Perlu Terlalu Dipoles**

Saya sering kagum pada wajah manusia.
Bukan kagum karena glowing, tapi karena wajah itu seperti CV kehidupan—tanpa bisa diedit.

Ada wajah yang rajin dirawat, ada yang dirawat sekadarnya, ada yang pasrah tapi bahagia.
Ada wajah yang halus karena skincare, ada yang halus karena jarang ribut batin.

Saya sendiri ini tipe organik.
Bukan organik mahal, tapi organik lalapan + air putih + ketawa pas perlu.
Makanya wajah saya jarang breakout, paling kerutan sisa mikir.
Itu pun mikirnya receh tapi berkepanjangan.

Saya tidak menertawakan make up.
Saya cuma kagum:

“Oh, manusia… di manapun, tanpa dandan ya tetap manusia.”

Dan setelah make up: pipinya haluuuus.
Seperti bayi.

Masalahnya cuma satu:
bayi orang, bukan bayi saya.
Kalau saya pegang, make up luntur.
Kalau make up luntur, saya ditatap.
Kalau ditatap, bisa panjang urusannya 🤣

Akhirnya saya sadar:
anti aging itu bukan soal wajah muda,
tapi wajah yang nggak capek menutupi hidupnya sendiri.


**Bagian II

Daster, Kuda Mas, dan Orang Gedongan yang Pakai Apa Pun Terlihat Wah**

Ini puncaknya.

Di satu live, entah kenapa saya nyeletuk:

“Ini daster kuda mas ya.”

Ponakan saya nyeletuk lebih kejam:

“Itu daster orang gedongan, om. Orang kaya yang pakai daster aja tetap kelihatan wah.”

Saya ngakak.
Niatnya bercanda.
Saya cuma berdiri di sudut, usil dan rese, sambil mikir:

“Yaudah lah, anggap ini ilmu sosial.”

Eh…
yang nonton nurut.
Beli.
Beneran beli.

Dan lucunya:
memang motifnya bagus.

Di situ saya sadar:
kadang orang tidak beli barangnya,
tapi beli ceritanya.

Daster yang sama,
dipakai orang yang:

  • tenang
  • tidak ribut batin
  • tidak teriak ingin terlihat kaya

hasilnya: terlihat mahal tanpa niat pamer.

Seperti wajah.

Wajah yang tidak dikejar muda,
tapi dijaga tenang—
itu juga terlihat “mahal”.

Makanya saya sering bilang (walau cuma di kepala):

“Anti aging itu bukan serum, tapi kebiasaan.”

Dan daster pun sama.
Bukan soal merek,
tapi siapa yang pakai dan seberapa damai isi kepalanya.

Saya ini cuma pedagang yang kebetulan kebablasan mikir.
Berdiri di sudut, rese dikit, usil dikit.
Kalau ada yang beli karena cerita, ya syukur.
Kalau tidak, ya sudah—
saya tetap makan lalapan.


**Epilog

Wajah, Daster, dan Anti Aging Tanpa Skincare**

Akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan sederhana:

  • Wajah yang damai tidak butuh banyak polesan
  • Daster yang dipakai orang tenang terlihat lebih “mahal”
  • Dan anti aging paling ampuh itu hidup yang tidak terlalu keras pada diri sendiri

Kalau hari ini wajah kita tidak sempurna,
tidak glowing,
tidak seperti bayi—

tidak apa-apa.

Asal tidak sedang berperang dengan hidup,
itu sudah jauh lebih awet daripada botol apa pun.

Dan kalau pakai daster kuda mas lalu terlihat gedongan,
itu bonus.
Bukan tujuan 🤣



You May Also Like

0 komentar