Nabi Tidak Butuh Alphard, Tapi Kami Dipaksa Menyerahkan Akal Sehat

by - 12:00 AM


Kenakalan kami dulu aman. Kami bertanya, tertawa, kadang keterlaluan, tapi masih dalam pagar: tidak merendahkan Tuhan, tidak menghina nabi. Kami hanya bingung. Otak kecil dijejali konsep kosmik yang terlalu besar. Dan ketika bingung, kami tertawa. Itu saja.

Tapi ada satu fase ketika tawa berhenti.

Saya masih ingat betul rasa kesal itu. Jalan umum ditutup atas nama pengajian. Bukan karena darurat, bukan karena masjid penuh, tapi karena merasa berhak. Saya datang bukan dengan niat ribut, hanya ingin tahu: apa yang dibicarakan sampai harus menutup hidup orang lain?

Lalu kalimat itu keluar, ringan, percaya diri, dan kejam:

Saya keturunan nabi. Kalian harus memuliakan nabi dan keturunannya.

Saat itu kepala saya dingin, tapi dada saya panas.
Kalimat itu bukan dakwah. Itu deklarasi kasta.

Maknanya jelas:
saya hebat,
kalian di bawah,
dan agama dijadikan bukti silsilah.

Lalu datang bagian yang lebih menjijikkan, dibungkus dengan air mata dan jargon cinta rasul.

Berikan apa pun yang kalian punya, seakan kalian sedang melihat nabi.

Saya kira ini metafora. Saya kira ini latihan empati.
Ternyata ini literal.

Ada yang datang naik motor, pulang jalan kaki.
Ada yang benar-benar menyerahkan kendaraannya.
Bahkan ada kalimat yang diucapkan tanpa malu:

Kalau mau dapat Alphard, enggak apa-apa Avanza diserahkan ke keturunan nabi.

Di titik itu saya tidak tertawa.
Saya menangis.

Bukan karena harta orang lain.
Bukan karena bodohnya jamaah.
Tapi karena nabi direndahkan sampai telanjang.

Nabi yang saya kenal hidup sederhana, menolak privilese, marah pada ketidakadilan, justru dijadikan alat barter ego.
Nama beliau dipakai untuk menghisap, bukan menuntun.
Cinta diperas menjadi kewajiban menyerah.

Ini bukan soal iman.
Ini soal manipulasi.

Dan yang paling menyakitkan: hampir tidak ada yang berani melawan.
Karena ketika agama sudah dipelintir jadi silsilah, akal sehat dianggap durhaka.

Saya tidak benci keturunan siapa pun.
Saya benci ketika darah dijadikan argumen,
dan iman dipaksa lumpuh agar ego bisa berdiri tegak.

Kalau memuliakan nabi berarti mematikan nalar,
kalau cinta rasul harus dibuktikan dengan kehilangan kendaraan,
kalau kritik langsung dicap tidak beriman—

maka yang sedang dirusak bukan akidah orang lain,
tapi martabat nabi itu sendiri.

Kenakalan kami dulu aman.
Yang berbahaya justru kesalehan palsu yang menuntut tunduk tanpa berpikir.

Dan di titik ini, saya tidak ingin tertawa.
Saya ingin berkata pelan, tapi jelas:

Nabi tidak butuh hartaku.
Yang butuh adalah mereka yang menjual namanya.

You May Also Like

0 komentar